Jumat, 19 Agustus 2011

Theosofi-Freemason dan Penghinaan Terhadap Islam (Bag.1)

Selain ajaran Theosofi yang merusak akidah Islam, para aktivis Theosofi di Indonesia pada masa lalu banyak terlibat dalam berbagai aksi pelecehan terhadap ajaran Islam. Ironisnya, mereka adalah orang-orang yang disebut dalam buku-buku sejarah sebagai tokoh-tokoh nasional.

Dalam buku “Sejarah Indonesia Modern”, sejarawan MC Ricklef menyatakan, Theosofi di Indonesia pada masa lalu banyak terlibat dalam berbagai aksi pelecehan terhadap Islam. Bukan hanya ajarannya yang banyak berseberangan dengan akidah Islam sebagaimana banyak dipaparkan oleh penulis pada tulisan beberapa edisi lalu, namun juga para aktivis Theosofi yang merupakan elit-elit nasional pada masa lalu, juga banyak melakukan pelecehan terhadap Islam. Para aktivis Theosofi yang umumnya elit Jawa penganut kebatinan, menganggap Islam sebagai agama impor yang tidak sesuai dengan kebudayaan dan jati diri bangsa Jawa.

A.D El Marzededeq, peneliti jaringan Freemason di Indonesia dan penulis buku “Freemasonry Yahudi Melanda Dunia Islam” menyatakan tentang gambaran elit Jawa dalam kelompok Theosofi dan Freemasonry pada masa lalu. Marzededeq menulis, “Perkumpulan kebatinan di Jawa yang berpangkal dari paham Syekh Siti Jenar makin mendukung keberadaan Vrijmetselarij (Freemason). Para elit Jawa yang menganut paham wihdatul wujud (menyatunya manusia dengan Tuhan, red) yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar, kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi-Freemasonry, baik secara murni ataupun mencampuradukkannya dengan kebatinan Jawa…” (hal.8)

Para elit Jawa dan tokoh-tokoh kebangsaan yang tergabung sebagai anggota Theosofi-Freemason di Indonesia pada masa lalu kerap kali berada di balik berbagai pelecehan terhadap Islam. Misalnya, mereka menyebut ke Boven Digul lebih baik daripada ke Makkah, mencela syariat poligami, dan menyebut agama Jawa (Gomojowo) atau Kejawen lebih baik daripada Islam. Penghinaan-penghinaan tersebut dilakukan secara sadar melalui tulisan-tulisan di media massa dan ceramah-ceramah di perkumpulan mereka. Penghinaan-penghinaan itu makin meruncing, ketika para anggota Theosofi-Freemason yang aktif dalam organisasi Boedi Oetomo, berseteru dengan aktivis Sarekat Islam.

Pada sebuah rapat Gubernemen Boemipoetra tahun 1913, Radjiman Wediodiningrat, anggota Theosofi-Freemason, menyampaikan pidato berjudul “Een Studie Omtrent de S.I (Sebuah Studi tentang Sarekat Islam)” yang menghina anggota SI sebagai orang rendahan, kurang berpendidikan, dan mengedepankan emosional dengan bergabung dalam organisasi Sarekat Islam. Radjiman dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.”

Anggota Theosofi lainnya yang juga aktivis Boedi Oetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, igama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah. Apakah bahasa kita yang indah itu kurang patut, terlalu profan untuk menyampaikan pesan Nabi?”

Goenawan Mangoenkoesomo adalah diantara tokoh nasional yang hadir dalam pertemuan di Loji Theosofi Belanda pada 1918, selain Ki Hadjar Dewantara, dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya Boedi Oetomo. Apa yang ditulis Goenawan di atas dikutip dari buku Soembangsih Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-Mei 1918 yang diterbitkan di Amsterdam, Belanda. Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…”

Terkait dengan ajaran Islam dan kebudayaan Islam, Goenawan secara sinis mengatakan,”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. Artikel ini kemudian memicu kemarahan besar aktivis Sarekat Islam dengan menggelar rapat akbar di Surabaya pada 6 Februari 1918. Dalam rapat akbar tersebut kemudian terbentuklah sebuah satuan khusus yang bertugas untuk melawan segala bentuk penghinaan terhadap Rasulullah. Satuan khusus itu bernama “Tentara Kandjeng Nabi Moehammad atau Tentara Kandjeng Rosoel”

Tentara Kandjeng Nabi Moehammad diketuai oleh HOS Tjokroaminoto dan diantara anggotanya adalah KH Achmad Dahlan. Dalam dokumen resminya, satuan khusus atau laskar pembela Islam ini menyatakan tujuan berdirinya adalah, “Mencari persatuan lahir batin antara segenap kaum moeslimin, terutama sekali yang tinggal di Hindia Belanda, dan untuk menjaga dan melindungi kehormatan igama Islam, kehormatan Nabi Moehammad saw, dan kehormatan kaum moeslimin.” Satuan khusus ini, pada saat ini adalah semisal dengan Laskar Pembela Islam, laskar yang berada di bawah organisasi Front Pembela Islam (FPI).

Terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad juga mendapat respon positif dari umat Islam di berbagai daerah. Berbagai aksi digelar untuk menggalang dukungan dan dana. Pada 24 Februari 1918, satuan khusus ini menggelar pertemuan di beberapa tempat di Jawa dan sebagian Sumatera. Tujuannya adalah agar umat paham akan keberadaan satuan khusus ini, yang memang mempunyai tujuan menghalau segala bentuk penghinaan terhadap Islam. Pembentukan satuan khusus ini kemudian mendapat reaksi keras dari kelompok kebatinan dan kejawen, baik yang tergabung dalam Theosofi-Freemason, maupun dari Boedi Oetomo. Mereka yang antipati terhadap laskar Islam ini kemudian mendirikan “Komite Nasionalisme Jawa” (Comittee voor het Javaasche Nationalisme).

Komite ini menuduh terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad yang dibentuk oleh Sarekat Islam adalah upaya untuk menghalang-halangi bangsa Jawa dalam mengamalkan kepercayaan Jawa, dan menghalang-halangi kepercayaan agama lain di luar Islam. Komite ini juga menuduh Tentara Kandjeng Nabi Moehammad dibentuk oleh bangsa asing, yakni bangsa Arab. Komite Nasionalisme Jawa dengan tegas menyatakan, “Politik dan agama harus dipisahkan.”

Tudingan ini kemudian dijawab oleh aktivis SI, Abdoel Moeis, dengan menyatakan bahwa terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad adalah isyarat agar pihak-pihak di luar Islam tidak lagi semena-mena dalam melakukan pelecehan terhadap Islam. Abdoel Moeis juga mengingatkan para penganut kebatinan dan kejawen, bahwa umat Islam tidak rela jika junjungannya yang mulia dihina. Abdoel Moeis menegaskan, SI berkeyakinan bahwa politik dan agama itu serangkai, tidak bisa dipisahkan. SI juga berdiri sebagai perlawanan terhadap Kerstening Politiek (Politik Kristenisasi) yang dilancarkan oleh kolonial Belanda.

Dengan sangat melecehkan dan mencampuradukkan antara simbol Islam dengan simbol kemusyrikan, Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya, karena sama-sama Baitullah, sama-sama rumah Allah. Penyebutan ini tentu melecehkan, karena bagi umat Islam, bangunan yang dipercaya sebagai Baitullah adalah Ka’bah yang berada di Makkah Al-Mukarramah, tempat umat Islam seluruh dunia berthawaf mengelilinginya dalam ibadah haji. Pelecehan oleh aktivis Theosofi dan Boedi Oetomo juga dilakukan dengan mengatakan bahwa orang yang pergi ke Makkah adalah menimbun modal untuk kepentingan bangsa asing. Dalam sebuah artikel yang ditengarai ditulis oleh penganut Theosofi, dengan nama Homo Sum, disebutkan,”Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.” (bersambung)

Sabtu, 13 Agustus 2011

Ibnul Khatthab: Khalid Bin Walid Abad 20, Singa Tauhid di Bumi Chechnya


Nama lengkapnya adalah Samir Saleh Abdullah Al-Suwailim. Lahir tahun 1969, tumbuh di keluarga mulia dan terhormat dikota Arar, Saudi. Ia mempunyai hati yang tulus, lembut namun tegas. Keluarga mendidiknya menjadi pribadi yang mandiri, untuk itulah keluarganya tidak pernah memberi uang saku lebih padanya. Wajahnya teduh dan memikat, Allah menganugerahi kelebihan padanya berupa kepandaian atau kefasihan berbicara, hal ini membuat lawan yang diajak bicara mudah terpikat. Lelaki yang mempunyai delapan saudara ini suatu ketika pernah berbicara dengan saudara kandungnya, tanpa sadar membuat saudaranya terpikat lalu dengan sukarela memberinya uang diluar uang saku.

Tidak hanya cerdas, namun Ibnul Khatthab sangat pemberani, berbeda dengan anak-anak seusianya. Suatu hari saat bermain, ia menemui pemandangan yang membuat hatinya terbakar, teman sekolahnya dikeroyok oleh gerombolan anak-anak Syi’ah. Meski Ibnul Khatthab lebih kecil dari anak-anak Syi’ah itu, tapi ia berusaha maju melerai perkelahian yang tidak seimbang tersebut. Sebenarnya ia menyadari tidak mampu mengalahkan anak-anak Syi’ah tersebut, ia nekad maju karena hatinya tidak rela melihat kezaliman. Alhasil, tubuhnya babak belur.

Pernah terjadi dalam hidupnya, kendaraan yang dikendarai menabrak kucing betina. Keringat membasahi tubuh, hatinya didera rasa takut yang sangat, wajahnya pucat pasi, tidak lama kemudian ia pingsan. Setelah siuman, hal pertama yang ditanyakan adalah keadaan kucing yang ia tabrak. Saudaranya mengatakan bahwa kucing tersebut telah mati. Mendengar kabar tersebut ia menangis tersedu-sedu.

Suatu ketika saat dia mengendarai mobil di tengah jalan yang sepi, ada seorang berkebangsaan Afrika melambaikan tangan meminta agar berhenti. Kepada Khatthab, lelaki muda Afrika itu meminta bantuan karena mobilnya mogok, sedangkan ia ada keperluan sangat penting di bandara. Akhirnya Khatthab meminjamkan mobilnya untuk orang tersebut. Setelah lelaki asing itu pergi, ia mencoba membenahi mobil yang ditinggalkan padanya. Namun gagal, ternyata kerusakannya agak fatal. Tanpa ragu, Khathab muda merogoh koceknya untuk membayar orang agar membetulkan mobil rusak itu. Setelah beberapa jam kemudian, laki-laki Afrika itu kembali. Khatthab mengatakan bahwa mobilnya sudah ia benahi, tanpa menyebutkan bahwa ia mengeluarkan uang pribadi untuk membenahinya. Subhanallah!

Tahun 1987, Khatthab mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika. Tidak lama setelah berada di Amerika, menggema panggilan jihad dari Syaikh Abdullah Azzam untuk melawan penjajah Rusia di Afghanistan. Khatthab muda bersama pemuda lain, ingin menjadi relawan di Afghanistan. Namun ternyata kunjungannya sebagai relawan tersebut menghadirkan pendar rasa dalam sanubarinya. Ada sesuatu memanggil jiwanya yang fitrah. Semua itu menyebabkan dirinya jatuh. Jatuh dalam rasa. Rasa tersebut bernama cinta. Ia telah jatuh cinta pada jihad.

Waktu itu, kumis pun belum tumbuh, tetapi Khatthab rajin dan gigih mengikuti serangkaian pelatihan di kamp mujahid, ia merayu komandan-komandannya agar segera diizinkan untuk berperang. Beberapa kali peperangan diikuti oleh Khatthab, namanya selalu ada di setiap operasi, sehingga dalam waktu cepat namanya dikenal di kalangan mujahidin Afghanistan.

Khatthab tidak hanya gigih melawan penjajah kafir, tapi ia sangat giat berlatih, tidak mengenal kata lelah dan letih, begitupun saat peluru musuh mengoyak tubuhnya, ia hanya mengolesinya dengan madu. Terhadap teman-temannya berjuang, Khatthab menyembunyikan rasa sakit yang menderanya.

HIJRAH KEBUMI CHECHNYA

Tahun 1995 adalah awal Ibnul Khathab menginjakkan kaki di bumi Chechnya. Negeri yang telah dicengkeram penjajah komunis Rusia tersebut membuat nuraninya terpanggil. Akhirnya di bumi Chechnya inilah Allah menyatukan dirinya dengan mujahid tangguh yang namanya tersohor, yaitu Syamil Basayef.

Keberadaan Khatthab di Chechnya membuat pemerintah kehilangan kontrol. Dengan bangga pemerintah mengatakan akan dengan mudah mengalahkan para mujahidin yang jumlahnya hanya ratusan, sementara pihak Rusia mengerahkan ratusan ribu tentara lengkap dengan persenjataan canggihnya. Perang gerilya yang dilakukan mujahidin membuat pasukan Rusia kocar-kacir.

Berbagai prestasi gemilang dapat diraih oleh para mujahid, tentunya atas izin Allah. Pada bulan April 1996 Ibnul Khatthab melakukan operasi gerilya yang dinamakan operasi Sha Toi. Dalam operasi Satoi, Khatthab menyergap konvoi tentara Rusia yang berjumlah sekitar 50 kendaraan berat. Sedikitnya 223 pasukan dan 26 perwira tinggi dalam konvoi tersebut terbunuh. Hal ini menjadikan nama Ibnul Khatthab tersohor, dan menjadi target utama Rusia.

Ibnul Khatthab adalah mujahid pertama yang mengabadikan momen-momen jihad, rekaman video operasi dan perjuangan berhasil di dokumentasikan. Ibnul Khatthab mengirimkan rekaman-rekaman video tersebut untuk mengobati rindunya pada keluarga. Sang ibu selalu mengharap ia kembali, namun sebaliknya sang ayah, begitu bangga dengan Khatthab dan sangat mendukungnya jika terus memperjuangkan Islam dari cengkeraman penjajah Rusia.

Ketika bertemu seorang nenek, Khatthab bertanya, apakah ingin Chechnya merdeka? Dengan antusias nenek tersebut menjawab, bahwa ia ingin merdeka, menjalankan syariat islam tanpa intervensi dari komunis. Lalu Khatthab bertanya lagi, “Lalu apa yang akan nenek berikan untuk mendukung para mujahidin?” Nenek itu pun menjawab, “Aku hanya mempunyai jaket ini, kuserahkan jaket ini untuk keperluan mujahid.” Mendengar jawaban itu, Khatthab meneteskan airmata.

Sejak kedatangan Khatthab, Rusia telah meminjam tangan kaum Sufi untuk memusuhi Khatthab, karena tokoh Sufi sangat membenci perjuangan kelompok Khatthab. Salah satu pasukan Khatthab ingin mendebat arogansi kelompok Sufi, namun Khatthab melarangnya. Khatthab berprinsip, lebih baik menghindari perdebatan yang tidak penting, karena dengan begitu akan banyak waktu untuk memikirkan strategi jihad.

PENGKHIANATAN ITU

Dengan sepak terjang Khatthab, Rusia semakin ganas. Berbagai cara pembunuhan diupayakan, mulai dari peledakan bom dan usaha lain, tapi selalu gagal. Ia pun pernah diberitakan meninggal oleh media Rusia. Upaya pembunuhan tersebut menghasilkan kegagalan. Hingga dibuatlah rekayasa keji oleh intelijen Rusia bernama FSB (Federal’naya Shulbha Bezopasnoti) untuk bersekongkol dengan pengkhianat.

Sebuah surat yang dibubuhi racun mematikan diserahkan pada Khatthab. Begitu surat dibuka, nyawa Khatthab melayang. Awalnya pengkhianatan itu tidak diketahui, baru setelah dua minggu rekayasa ini terbongkar.

Ibnul Khatthab sang singa tauhid di bumi Chechnya itu telah tiada, tetapi seribu Khatthab akan bangkit untuk membumihanguskan kaum kafirin. Sang komandan gigih dan cerdik berjuluk “Khalid Bin Walid Abad 20” telah mendapatkan apa yang diinginkannya, syahid dalam membela agama Allah.

sumber : http://voa-islam.com/