Minggu, 11 September 2011

TELUNJUK YANG BERSYAHADAT


Ulama, dai, serta para penyeru islam yang mempersembahkan nyawanya di jalan Allah, atas dasar ikhlas kepada-Nya, senantiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.
Di antara dai dan penyeru islam itu adalah syuhada (insyaAllah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Diantara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahub 1996).
Salah seorang polisi itu mengetenahkan kisahnya kepada kita :
Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu persitiwa itu menghantam kami dan mengubah total kehidupan kami.
Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bisa mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.
Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia : menyemalamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “penghianat keji” yang telah bekerja sama dengan yahudi hina.
Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami menyaksikan para ‘penghianat’ ini senantiasa menjaga shalat mereka, bahkan senantiasa berusaha menjaga shalat mereka, bahkan senantiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apa pun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti mengingat Allah. Lisan mereka senantiasa berzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.
Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah, sementara ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.
Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawan ‘penjahat keji’ dan ‘penghianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agama adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?
Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-ornag ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan izin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘penghianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Quthb.
Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.
Malam itu seorang syeikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan menginatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.
Syeikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapakan Laa Ilaaha Illallaah ….” Sayyid Quthb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai syeikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat laa ilaaha illallaah, sementara engkau mencari makan dengan laa ilaaha illallaah.”
Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.
Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menenpati posisinya dengan senjata siap. Para perwiara militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.
Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncang jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap teguh dan sabar, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAAHU AKBAR WALILLAAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.
Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan di buka dan seorang pejabat militer ringkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.
Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Quthb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwiara itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan mengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.
Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja …. Aku bersalah dan aku minta maaf …”
(hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Quthb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Quthb sembari membawa pesan dari rezim penguasa Mesir, meminta agar Sayyid Quthb sekadar mengajuka permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Nasser, maka ia akan diampuni. Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thawaghit …” –penerjemah).
Sayyid Quthb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan akhirat yang abadi.”
Perwira itu berkata, dengan suara bergetar karena rasa sedih hang mencekam, “tetapi Sayyid Quthb , itu artinya kematian …”
Ustadz Sayyid Quthb berkata tenang, “Selamat datang kematian di jalan Allah … Sungguh Allah mahabesar!”
Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.
Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Quthb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuau yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya … Mereka mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammad Rasulullaah . . .”
Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hamba-Nya yang saleh. Aku senantiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

Sumber : Buku Ma’alim Fi Ath Thariq dari kumpulan kisah : “Mereka Yang Kembali Kepada Allah” Karya Muhammad Abdul Aziz Al Musnad. Penerjemah : Dr. Muhammad Amin Taufiq. Courtesy : Al Firdaws English Forum.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Revolusi Islam di Yaman: Penegakan khilafah & pembebasan Al Aqsha


“Akan muncul dari Aden Abyan, 12.000 orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah sebaik-baik orang di antaraku dan mereka.” (HR. Ahmad: 2918, 2079 dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 11029 (11/56).

Revolusi Islam di Yaman memasuki babak baru yang menentukan. Pasca serangan roket mematikan yang menghantam masjid di komplek Istana Presiden Yaman di San’a, Jum’at (3/06/2011), Presiden Ali Abdullah Saleh dikabarkan meninggalkan Yaman menuju Riyadh, Saudi, untuk mengobati kepalanya yang terluka.

Sementara itu, sejumlah pejabat tinggi cedera dan tujuh pengawal Presiden yang sedang sholat Jum’at tewas akibat serangan tersebut. Sementara itu, Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berbasis di Yaman telah mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam (Negara Islam) di Yaman, dengan propinsi Abyan sebagai ibukotanya pada hari Sabtu (28/05/2011).

Saat ini, AQAP sedang mempersiapkan 12.000 pejuang di Aden dan Abyan untuk memerangi petugas keamanan Yaman dan agen intelijen secara total dan menyeluruh. Pasukan yang dibentuk juga dimaksudkan untuk persiapan pendirian Kekhalifahan Islam. Apakah 12.000 pasukan dari Aden dan Abyan ini menjadi tanda sudah terealisirnya nubuwah (kabar kenabian) dan akan segera terjadinya Al Malhamah Al Kubro (Perang Besar) hingga berujung pada pembebasan Al Aqsha?

Revolusi Islam di Yaman: Kemenangan yang dijanjikan

Revolusi Islam di Yaman yang terjadi sejak empat bulan lalu tidak terlepas dari pengaruh gelombang tsunami Revolusi Islam yang melanda Timur Tengah dan sekitarnya. Pasca Revolusi di Tunisa yang menyulut Revolusi lainnya termasuk di Yaman, ribuan penduduk telah berdemonstrasi di ibukota Yaman, San’a, menuntut turunnya sang diktaktor bengis, Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih.

Bersamaan dengan revolusi rakyat yang menuntut sang diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di provinsi Abyan, telah berjuang untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan Imarah Islam (Negara Islam) di negara tersebut.

AQAP berkali-kali terlibat pertempuran dengan pasukan militer pemerintahan Yaman yang dibantu Amerika. Yaman, sebuah negara yang dalam sejarahnya memiliki kontribusi besar dalam perjalanan dan perkembangan Islam, sayangnya pasca serangan 11 September 2011 masuk ke camp kufur pimpinan AS dan sekutunya. Disuntik dana 70 miliar dollar oleh AS, pemerintahan Yaman di bawah Ali Abdullah Saleh mulai melancarkan perang melawan Islam dan kaum Muslimin di Yaman, dengan dalilh perang melawan terorisme.

Sejak tahun 2005, Yaman telah mengusir 16.000 orang yang dicurigai sebagai anggota Al Qaeda. Amerika pun semakin giat menggelontorkan dana untuk membunuhi para mujahidin AQAP dan menentang geliat penegakan syariat Islam di Yaman. Maka bantuan sebesar 150 juta USD pun segera digelontorkan agar pasukan militer Yaman dapat segera membumi hanguskan mujahidin AQAP. Bukannya surut, jihad di Yaman semakin berkobar dan meluas yang keseluruhannya digelorakan oleh para mujahidin AQAP!

Min Huna Nabda wa Fie Al Aqsha Naltaqiy

Dalam sebuah kesempatan, lewat pesan rekaman audio, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, mengeluarkan seruan revolusi total untuk melawan penguasa dunia Arab, termasuk Yaman tentunya. AQAP juga menyerukan agar umat Islam segera mendirikan pemerintahan yang berdasarkan hukum Islam!

Rekaman seruan revolusi dari AQAP tersebut muncul merespon gelombang tsunami revolusi Islam yang tengah menyapu Timur Tengah, setelah berhasil menggulingkan rezim Tunisia, Mesir, Libya, dan kini Yaman!

Dalam rekaman audio tersebut yang berbicara adalah Syekh Ibrahim al-Rubeish, mantan tahanan Guantanamo dan kini bergabung dengan mujahidin AQAP. Dalam rekaman sepanjang 10 menit itu, Syekh Al Rubeish mengkritik Arab Saudi yang menyediakan surga bagi presiden Tunisia yang digulingkan, Ben Ali. Beliau juga berpesan, bahwa menumbangkan penguasa lama saja tidak cukup dalam sebuah revolusi Islam, akan tetapi perlu didirikan pemerintahan baru berdasarkan hukum Islam atau syariat.

“Satu tiran pergi, hanya untuk diganti yang lain yang dapat mengatasi masalah duniawi mereka dengan menawarkan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan mereka, namun masalah yang lebih besar sebenarnya tetap ada,” ujar beliau, merujuk pada pemimpin yang menggantikan tiran namun tidak menerapkan syariah Islam.

Sementara itu, ribuan anggota suku Yaman telah mengancam akan membanjiri ibukota Yaman, Sana’a untuk bergabung dalam pertempuran melawan pasukan yang setia kepada rezim presiden Saleh.

Mereka memperingatkan pemerintah bahwa jika pemerintah lebih berjuang habis-habisan untuk mempertahankan kekuasaan, mereka akan bergabung dengan suku yang lain yang telah berjuang dengan kekuatan melawan pasukan rezim Saleh dalam dua minggu terakhir.

Diktaktor Ali Abdullah Saleh sendiri telah menolak menandatangani kesepakatan yang diajukan negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (PGCC) selama tiga kali meskipun partainya sendiri dan para anggota oposisi telah menandatanganinya.

PGCC menjadi penengah dalam kesepakatan pada tanggal 23 Mei dan menyeru presiden Saleh menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden Yaman dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan perjanjian dalam pertukaran untuk kekebalan dari tuntutan oleh parlemen

Dalam sebuah video yang dirilis oleh Global Islamic Media Front (GIMF) yang diproduksi oleh Al Malahim, berjudul “From Here We Begin…and at Al Aqsha We Meet” (Min Huna Nabda wa fie Al Aqsha Naltaqiy) amir (pimpinan) dan para komandan Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman menyerukan seruan jihad dan rencana untuk mengirimkan 12.000 pasukan dari Aden dan Abyan.

Berbicara pertama kali dalam video tersebut adalah Syekh Abu Sufyan Al Azdi Saeed Al Shihri sebagai Deputy Comannder AQAP yang juga mantan tahanan Guantanamo bernomer # 372. Dalam seruannya beliau bersumpah akan membalaskan darah mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab, seperti Syekh Abdul Aziz Al Muqrin yang dibantai secara keji oleh aparat Saudi.

Dalam kesempatan tersebut beliau juga berjanji akan menegakkan Daulah Islam, Khilafah Islam, dan menerapkan hukum-hukum Allah SWT. Beliau menyebut Yaman sebagai tanah jihad dan tempat dimana akan dideklarasikannya negara Islam. Beliau juga menyinggung akan membebaskan Al Aqsha dari cengkraman zionis yahudi Israel.

Berbicara di kesempatan kedua adalah amir (pimpinan) AQAP, Syekh Abu Baseer Nasir Al Wuhaishi. Beliau menyampaikan kabar gembira kepada seluruh kaum Muslimin dimanapun berada bahwa mereka, Mujahidin AQAP sebentar lagi akan menegakkan negara Islam di Yaman. Negara Islam di Yaman pun, menurut beliau adalah cikal bakal dari Khilafah Islam yang nantinya akan memerangi seluruh musuh Islam.

Beliau juga menyerukan akan segera datangnya pasukan mujahidin untuk membebaskan Al Aqsha. Kami bersumpah akan melakukan hal itu kepada saudara muslim kami di Palestina, sebagaimana sumpah Syekh Usamah bin Laden, sumpah Syekh Abu Mushab Az Zarqawy, dan lainnya.

Pembicara ketiga dalam kaset tersebut adalah Syekh Abu Hurairah Qasim Al Rimi, selaku Military Comannder AQAP. Beliau juga bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa mereka akan datang dengan bendera jihad ke Palestina untuk membebaskan Al Aqsha.

Beliau juga menyinggung Hasan Nasrullah, pimpinan Hizbullah Libanon yang pro Syiah, yang dikatakan memiliki sekitar 20.000 misil yang bisa ditembakkan ke Tel Aviv, ibukota Israel. Lalu, mengapa tidak ada satupun misil yang kalian tembakkan ke Israel? Bukankah itu artinya kalian sama saja dengan Mesir yang membuat blokade dengan menutup Rafah ke Gaza, dan kalian membuat blokade antara Libanon dengan Palestin?

Pembicara terakhir dalam video tersebut adalah Syekh Abu Harith Muhammad Al Awfi yang bertindak sebagai Field Comannder AQAP dan juga mantan tahanan Guantanamo bernomer # 333. Beliau lebih menyerukan kepada para tiran di Saudi Arabia bahwa mereka akan datang ke negeri Haramain (Mekkah dan Madinah) dan membalas apa yang telah mereka lakukan kepada mujahidin di sana, seperti kepada Syekh Yusuf Al Uyairi. Di bagian akhir, beliau juga berjanji akan membebaskan Al Aqsha dan seluruh jazirah Arab!

Menuju Khilafah Islam & pengiriman 12.000 pasukan untuk pembebasan Al Aqsha

Di tengah gelombang revolusi Islam yang masih berkecamuk di Yaman, kebuntuan politik dan melemahnya kekuasaan rezim diktaktor Ali Abdullah Saleh, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) akhirnya, dengan idzin Allah, mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam di Yaman.

Peristiwa bersejarah bagi ummat Islam tersebut terjadi pada hari Sabtu (28/5/2011). AQAP mendeklarasikan Imarah Islam di Yaman, khususnya Yaman Selatan, dengan ibukota propinsi Abyan.

Deklarasi Imarah Islam di Yaman ini dilakukan AQAP setelah berhasil mengambil alih hampir seluruh bagian dari provinsi Abyan setelah merebut ibukota, Zinjibar pada Jumat (27/5). Dalam kesempatan itu pula, AQAP juga mempersiapkan untuk membentuk tentara dari 12.000 pejuang dari Aden dan Abyan untuk memerangi petugas keamanan Yaman dan agen intelijen di sana.

Syekh Mohamed Saied al-Omda, komandan lapangan AQAP mengatakan:

“Kami punya kabar baik bagi bangsa Islam, bahwa tentara dari 12.000 pejuang saat ini sedang dipersiapkan di Aden dan Abyan. Dengan pasukan ini, kita akan mendirikan sebuah kekhalifahan Islam. Ini adalah pesan untuk petugas keamanan pemerintah Yaman dan keamanan Layanan Nasional. Pedang kami siap dan kami memutuskan untuk membersihkan bumi ini,” ujar beliau.

Mendengar deklarasi Imarah Islam Yaman tersebut, pemerintah Yaman segera mengirim pesawat tempur dan membombardir posisi Mujahidin Al Qaeda di kota Zinjibar. Penduduk, Ali Dahmas mengatakan ia melihat jet tempur melepaskan tembakan di pinggiran selatan kota itu dan mendengar ledakan keras yang kemudian disusul dengan asap tebal ke udara.

Selain Yaman, Amerika sendiri sangat khawatir dengan deklarasi AQAP tersebut. Amerika masih berusaha untuk melobi sekutunya dari Eropa dan negara-negara Teluk untuk menekan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, agar segera menandatangani kesepakatan untuk menyerahkan kekuasaan.

“Kami sangat cemas bahwa situasi yang tidak stabil di Yaman akan membawa permusuhan antarsuku yang berkepanjangan, yang mempersulit kami dalam menjalani proses kesepakatan untuk mentransfer kekuasaan,” ungkap sumber keamanan AS.

Para analis Barat dan Zionis membunyikan alarm bahwa pembebasan Zinjibar oleh Mujahidin AQAP memberi mereka kesempatan nyata untuk mencapai kekuasaan di “wilayah tidak stabil” dan mendirikan pemerintahan Islam. Sebuah koran Zionis, The Jerusalem Post, menulis:

“Laporan pengambilalihan terhadap kota Yaman selatan Zinjibar oleh pasukan bersenjata yang setia kepada Al Qaeda adalah pengingat yang mengganggu dari kesempatan mendirikan negara untuk mewakili gerakan jihad global”.

Jerusalem Post mengatakan bahwa tujuan Al Qaeda adalah untuk mendapatkan kedaulatan, dan untuk membentuk negara Islam, kekhalifahan, yang akan menyingkirkan semua rezim boneka Arab dan Asia Muslim.

Jika AQAP mengkonsentrasikan pasukan mereka, mengambil kontrol tidak hanya atas wilayah sekitar Zinjibar, tapi daerah lain Yaman, itu akan menjadi langkah pasti pertama untuk memulai membangun kembali Khilafah.

Para analis barat dan yahudi tersebut begitu yakin dan sangat ketakutan akan kemenangan AQAP. Bagi kaum Muslimin, pengiriman 12.000 pasukan dari Aden dan Abyan adalah nubuwah (kabar kenabian) karena merupakan sebuah hadits dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda :

“Akan muncul dari Aden Abyan, 12.000 orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah sebaik-baik orang di antaraku dan mereka.” (HR. Ahmad: 2918, 2079 dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 11029 (11/56).

Dr. M Faiq Sulaifi menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul “Pasukan dari Kota Aden” bahwa kabar atau hadits tersebut memiliki 2 sanad, yang satu shahih dan yang lainnya adalah dla’if. Maka yang dijadikan sandaran adalah sanad yang shahih.

Adapun tentang Aden dan Abyan beliau mengutip Al-Allamah Al-Hazimi yang berkata:

“Adapun yang pertama (yaitu Adan) –dengan fathah ain dan dal dan akhirnya nun-: Aden Abyan dari kota-kota Yaman yang terkenal. Dinisbatkan padanya (kota Aden) beberapa imam dan perawi hadits.” (Al-Amakin au Mattafaqa Lafzhuhu: 87). Sehingga penisbatan kepada kota Aden disebut dengan Al-Adeni.

Al-Allamah Ibnu Sayyidih berkata:

“Aden adalah sebuah tempat di Yaman. Disebut pula Aden Abyan. Seseorang dari Himyar dinisbatkan kepada Abyan karena ia telah “adan” (yaitu: bermukim) pada tempat itu (yaitu Abyan).” (Al-Muhith wal Muhkam Al-A’zham: 2/18).

Dan kota Aden adalah termasuk kota pelabuhan. Al-Allamah Ibnul Atsir Al-Jazari berkata:

“Di dalam hadits ada lafazh (dari demikian menuju Aden Abyan). Abyan –dengan wazan ‘ahmar’- adalah desa di tepi laut dari arah Yaman. Dan dikatakan bahwa Aden Abyan adalah nama kota Aden.” (An-Nihayah fii Gharibil Hadits: 1/22).

Dr. M Faiq Sulaifi melanjutkan dalam artikelnya. Al-Imam Al-Mu’tamir bin Sulaiman At-Taimi Al-Bashri berkata tentang hadits di atas:

“Menurutku beliau berkata: “Di kota A’maq.” (Majma’uz Zawa’id: 10/29).

Maksud beliau adalah bahwa mereka (pasukan dari Aden) akan berangkat dan bergabung ke kota A’maq bersama pasukan kaum muslimin untuk berperang melawan tentara Romawi (Kristen Salibis Eropa) pada peristiwa Al-Malhamah Al-Kubra (Pertempuran Besar) dan Penaklukan Konstantinopel pada akhir zaman sebelum munculnya Dajjal –la’natullah alaih-.

Al-Allamah Yaqut Al-Hamawi berkata:

“Kota A’maq disebutkan dalam hadits tentang penaklukan Konstantinopel. Beliau bersabda: “Kemudian pasukan Romawi turun di kota A’maq dan Dabiq. Dan mungkin juga ada hadits dengan bentuk jamak dan yang dimaksud adalah Umuq. Yaitu sebuah distrik (kota kecil) dekat kota Dabiq di antara kota Halab (Aleppo) dan kota Anthakiah.” (Mu’jamul Buldan: 1/222).

Hadits yang diisyaratkan oleh Yaqut adalah sabda Rasulullah :.

“Tidak akan terjadi hari kiamat sebelum pasukan Romawi turun di kota A’maq atau kota Dabiq kemudian dihadapi oleh pasukan (muslimin) dari Madinah dari sebaik-baik penduduk bumi pada hari itu….dst.” (HR. Muslim: 5157, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 6813 (15/224)).

Kota A’maq dan Aleppo adalah terletak di sebelah utara kota Damaskus. Semua kota tersebut masuk wilayah Syam. Sedangkan kota Damaskus –yaitu daerah Ghuthah- merupakan pusat kendali kaum muslimin dalam pertempuran ini.

Rasulullah bersabda dalam hadits panjang:

“Dan periode keenam adalah perdamaian antara kalian (kaum muslimin) dengan Bani Ashfar (yaitu Romawi atau Eropa). Kemudian mereka akan berjalan (memerangi kalian) di atas 80 ghayah.” Aku (perawi hadits) bertanya: “Apa itu ghayah?” Beliau menjawab: “Yaitu bendera. Masing-masing bendera membawahi 12.000 pasukan. Perkemahan kaum muslimin ketika itu adalah di sebuah tempat yang bernama Ghuthah di kota yang bernama Damasykus.” (HR. Ahmad: 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad Ahmad berkata: “Isnadnya shahih menurut kriteria Muslim.” Dan di-shahih-kan pula oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Fadla’ilus Syam wa Damsyiq: 30 (23))

Kini, di propinsi Abyan, di Yaman Selatan, mujahidin AQAP telah mendeklarasikan berdirinya negara Islam, yang diproyeksikan menjadi Khilafah Islam. Dari sana pulalah, yakni dari Aden dan Abyan, rencananya akan dikirim 12.000 pejuang atau mujahidin untuk membebaskan Yaman seluruhnya dan juga Al Aqsha. Inikah pertanda telah terealisirnya nubuwah (kabar kenabian) dan akan segera terjadinya Al Malhamah Al Kubro (Perang Besar) hingga berujung pada pembebasan Al Aqsha? Semoga!

Wallahu’alam bis showab!

Sumber by : Ar Rahmah Media Network