Senin, 11 Januari 2010

Indonesia Di bawah Panji NeoLib (Tamat)


Merupakan fakta sejarah jika di awal kekuasaan Harto, kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah digadaikan kepada blok imperialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat.

Ada perbedaan sangat besar terkait pengelolaan kekayaan alam Indonesia di zaman Soekarno dengan zaman Harto dan para pewarisnya. Soekarno bersikap, “Biarkan kekayaan alam kita, hingga insinyur-insinyur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.” Sedangkan Harto dan para pewarisnya hingga sekarang bersikap, “Biarkan kekayaan alam kita dijarah oleh orang-orang asing, silakan Mister…”

Merupakan fakta sejarah jika di awal kekuasaan Harto, kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah digadaikan kepada blok imperialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Sebelumnya Harto dan Washington agaknya telah memiliki “MOU” bahwa jika Soekarno berhasil dikudeta maka Harto yang menggantikannya akan “membalas budi” kepada Washington berupa penyerahan negara dan bangsa ini tanpa syarat agar bisa dieksploitasi sepuasnya oleh para tuan bule di Washington.

Tragedi pertemuan Mafia Berkeley dengan Rockefeller dan kawan-kawannya di Jenewa-Swiss di bulan November 1967 menjadi bukti tak terbantahkan tentang permufakatan iblis tersebut. Di saat itulah, rezim Jenderal Harto mencabut kemerdekaan negeri ini dan menjadikan Indonesia kembali sebagai negeri terjajah. Ironisnya, penjajahan asing atas Indonesia diteruskan oleh semua pewarisnya termasuk rezim yang tengah berkuasa hari ini yang ternyata “jauh lebih edan” ketimbang Jenderal Harto dulu.

Sampai sekarang, hampir semua cabang produksi yang amat vital bagi negara dan bangsa ini telah dikuasai asing. Banyak buku yang telah memaparkan dengan jujur kenyataan menyedihkan ini. Beberapa di anaranya adalah buku berjudul “Di Bawah Cengkeraman Asing: Membongkar Akar Persoalannya dan Tawaran Revolusi untuk Menjadi Tuan di Negeri Sendiri” (Wawan Tunggul Alam: 2009), dan “Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!” (Amien Rais, 2008). Dengan bahasa jurnalisme yang sangat mengalir namun amat kaya data, Wawan memaparkan dengan lugas hampir seluruh fakta yang patut diketahui generasi muda bangsa ini, agar kita bisa sadar sesadar-sadarnya jika Indonesia itu, negeri kita ini, sekarang masih merupakan negeri terjajah!

Dan untuk buku yang kedua yang ditulis oleh Amien Rais, isinya benar-benar bagus dan sangat anti dengan neo-liberal. Namun dalam faktanya sangat ironis, karena entah dengan alasan apa, Amien Rais sekarang malah jelas-jelas menjadi bagian dari kelompok NeoLib dengan berterus-terang menyatakan dukungannya pada rezim yang berkuasa sekarang. Disadari atau tidak, dia sekarang telah menjadi part of problem bagi bangsa ini dan menjadi salah satu penghalang bagi gerakan pemerdekaan negeri ini dari cengkeraman imperialisme asing.

Jika Imperialisme dan Kolonialisme Kuno (Spanyol, Portugis, VOC, Fasis Jepang, dan NICA) menggunakan senjata api untuk menjajah suatu negeri, maka sekarang, Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme, Nekolim) lebih pintar dengan tidak lagi memakai senjata api namun mempergunakan kekuatan uang (baca: kekuatan utang).

JFK, CIA, dan Freeport

Di atas telah disebutkan, hanya beberapa bulan setelah secara de-facto berkuasa, Jenderal Harto menggadaikan nyaris seluruh kekayaan alam negeri ini kepada blok imperialisme asing. Salah satu cerita yang paling menyedihkan adalah tentang gunung emas di Papua Barat. Gunung emas yang sekarang secara salah kaprah disebut sebagai Tembagapura, merupakan sebuah gunung dimana cadangan tembaga dan emas berada di atas tanahnya, tersebar dan siap dipungut dalam radius yang amat luas.

Lisa Pease menulis artikel berjudul “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport” dan dimuat dalam majalah Probe. Tulisan bagus ini disimpan di dalam National Archive di Washington DC. Dalam artikelnya, Lisa Pease menulis jika dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada di sekujur Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Piminan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kenndey merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil siap yang bertolak-belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C. Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.

Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital NY di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pimpinan Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi 1 Oktober 1965, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengeksplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasionil mereka.

Sebab itulah, ketika ketika UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport. Inilah kali pertama kontrak perminyakan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport menggandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A. Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki depost terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar pon dan emas sebesar 52,1 juta ons. Nilai jualnya 77 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia.

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru di mana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan langsung mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. “Perampokan legal” ini masih terjadi sampai sekarang.

Kisah Freeport merupakan salah satu dari banyak sekali kisah sedih tentang bagaimana kekayaan alam yang diberikan Allah SWT kepada bangsa Indonesia, oleh para penguasanya malah digadaikan bulat-bulat untuk dirampok imperialisme asing, demi memperkaya diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Kenyataan memilukan ini masih berlangsung sampai sekarang hingga rakyat menjadi sadar dan menumbangkan penguasa korup. (Tamat/ridyasmara/Eramuslim/Iqraku)

Sabtu, 09 Januari 2010

AS PENJAJAH NYATA UMAT ISLAM


Selama periode pertama kepemimpinannya, Bush secara brutal menjadikan umat Islam sebagai obyek penjajahannya. Menurut laporan majalah kesehatan Inggris The Lancet, sekitar 100 ribu warga sipil Irak mungkin telah tewas sejak serbuan yang dipimpin Amerika atas negara mereka. (BBC online, 29/10/2004).

Setelah terpilih kembali, Bush menegaskan lagi politik luar negeri Kapitalismenya yang barbar. Bush akan menggunakan demokrasi dan terorisme sebagai alat untuk membenarkan tindakannya membunuhi kaum Muslim di dunia untuk mengeksploitasi kekayaan alamnya. Demokrasi, sistem kufur, yang ditawarkan AS tidak lebih untuk kepentingannya sendiri. Dalam jumpa pers yang pertama setelah terpilih Bush mengatakan, “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi.” (Kompas, 6/11/2004).

Setelah itu, Bush segera menyerang Fallujah habis-habisan. Atas perintah Bush, yang didukung Inggris dan anteknya Allawi, Fallujah, daerah yang dikenal dengan banyak masjid, dibombardir. Dunia disuguhi kesadisan tentara AS yang membunuhi kaum Muslim yang sudah tidak berdaya di masjid. Untuk membungkam perlawanan, AS pun membunuh para ulama terkemuka di Irak yang tidak setuju dengan AS dan Allawi. Al-Quran pun mereka hinakan dengan cara dicampakkan dan dikoyak-koyak.

Apa yang terjadi pada kaum Muslim sekarang ini tidak lepas dari agenda penjajahan negara-negara kapitalis. Penjajahan—dalam segala bentuknya—bahkan merupakan tharîqah (metode) yang baku dalam politik luar negeri mereka. Negara-negara kapitalis-imperialis adalah seperti AS Inggris, Prancis, dan Jerman. Tujuan politik luar negeri mereka juga jelas, yakni menyebarluaskan ideologi Kapitalisme ke seluruh penjuru dunia.

Negara-negara imperialis ini jelas tidak akan membiarkan sedikitpun ada kekuatan lain yang dapat mengganggu misi mereka dan lestarinya penjajahan mereka. Ini berlaku dari dulu hingga sekarang. Perkara ini tampak jelas dalam perencanaan pertahanan AS yang dikemukakan oleh Pentagon pada Februari 1992, yang mempertegas kebijakan luar negeri AS untuk menghalangi munculnya pesaing baru Amerika dari mana pun.

Islam Musuh Nomor Satu Kapitalisme

Persatuan negeri-negeri Islam jelas merupakan ancaman besar bagi negara-negara imprialis Barat. Apalagi kalau persatuan itu dibangun di atas dasar ideologi yang sahih, yakni ideologi (mabda’) Islam; ideologi yang didasarkan pada akidah Islam dan diemban oleh institusi politik Islam yang menerapkan syariat Islam, yakni Daulah Khilafah Islam; sebuah negara yang akan membebaskan negeri-negeri Islam dengan jihad. Tidak aneh jika tiga perkara tersebut—akidah Islam, syariat Islam yang ditegakkan oleh Daulah Khilafah Islam, dan jihad—menjadi sasaran penghancuran oleh AS.

Sesungguhnya Islam telah dinominasikan oleh AS menjadi musuh utamanya, terutama setelah robohnya Komunisme. Negeri-negeri Islam menjadi sasaran terpenting AS dalam perang melawan terorisme. Tujuannya adalah untuk mengokohkan dominasi dan penjajahan AS di negeri-negeri Islam. Salah satu alasannya karena kaum Muslim di seluruh dunia sedang merintis jalan menuju kebangkitannya melalui upaya penegakan kembali Daulah Khilafah Islam. AS dan sekutu-sekutu imperialismenya sangat tahu persis, bahwa Daulah Khilafah itulah satu-satunya negara yang berkemampuan untuk meluluhlantakkan ideologi Kapitalisme yang dipimpin oleh AS.

Tidak aneh pula jika saat ini kita menyaksikan para pejuang syariat Islam dan Daulah Khilafah Islam dihalang-halangi dan ditindas. Mereka dituduh teroris, mengganggu stabilitas, dan memecah-belah. Menhan AS Rumsfeld, misalnya, pernah mengingatkan bahaya kaum ‘teroris’, “Tujuan mereka (para ekstremis) adalah menghancurkan pemerintahan yang ada di dunia, menegakkan Khilafah, menjadikan dunia di bawah tangan teroris, dan menentukan bagaimana tiap orang hidup. (thestar.com.my)

Agenda Penjajahan Negara Imperialis

A. Politik.
Di bidang ini tiga perkara yang menonjol adalah demokratisasi, disintegrasi, dan war on terrorism. Tiga isu ini menjadi alat untuk mengokohkan imperialisme AS di Dunia Islam.

1. Demokratisasi
Demokratisasi Dunia Islam menjadi agenda penting AS. Dalam pidatonya pada Kamis 6/11/2003 di depan The National Endowment for Democracy pada ulang tahun badan itu yang ke-20, Bush kembali menekankan pentingnya demokratisasi Timur Tengah. Dalam kesempatan itu, Bush mengungkap strategi ke depan bagi ‘pembebasan’ Timur Tengah. Ada beberapa argumentasi yang dilontarkan Bush tentang pentingnya demokratisasi di Timur Tengah. Menurutnya, selama kebebasan (freedom) belum tumbuh di Timur Tengah, kawasan itu akan tetap menjadi wilayah stagnan (jumud), ‘pengekskpor’ kekerasan, termasuk menjadi tempat penyebaran senjata yang membahayakan negara AS. Hal ini dipertegas lagi dalam pidato pertama terpilihnya kembali dirinya baru-baru ini.

Jelas, argumentasi demokratisasi ini penuh dusta dan kebohongan. Munculnya kekerasaan di Dunia Islam, terutama Timur Tengah selama ini, karena dipicu oleh tindakan zalim AS sendiri terhadap umat Islam. Berbagai krisis dan konflik di dunia saat ini merupakan reaksi keras kekejaman AS. Mungkinkah muncul perlawanan terhadap pasukan AS kalau mereka tidak menduduki Irak? Mungkinkah pula muncul perlawanan Hamas dengan aksi-aksi syahidnya kalau AS tidak terus-menerus mendukung penjajah Israel di bumi Palestina?

Lagi pula, mengapa AS baru memunculkan isu demokratisasi belakangan ini saja, padahal selama ini AS banyak berkolaborasi dengan pemerintahan diktator di Timur Tengah; AS juga telah lama bekerjasama dengan pemerintah Saudi yang diktator dan jelas-jelas tidak demokratis. Sebelumnya juga, AS pernah lama bekerjasama dengan rezim Saddam Hussein saat AS mendukung Irak dalam perang melawan Iran. AS juga, hingga saat ini, tetap saja mendukung penguasa Mesir Husni Mubarak yang dikenal diktator dan bertindak kejam terhadap para pejuang Islam. Dari sini jelas, isu demokratisasi tidak lain adalah untuk mengokohkan kedudukan penjajahan mereka di Timur Tengah.

2. Disintegrasi
Upaya disintegrasi negeri-negeri Islam tampak jelas dari campur tangan AS dalam setiap konflik yang berbau disintgerasi. Di Indonesia perkara ini tampak jelas dalam kasus Aceh, Ambon, Papua, dan Poso. Disintegrasi juga dilakukan lewat usulan dan kebijakan desentralisasi, otonomi daerah, isu putra daerah, Indonesia Timur-Barat, dsb.

Di belahan dunia lain, hal yang sama dilakukan di Irak dengan memunculkan isu Syiah-Sunni, negara federal, dsb. Di Sudan, beberapa perundingan dilakukan dengan pemberontak John Garang yang mengisyaratkan pengakuan terhadap pemisahan dan pemberontakan di Sudan Selatan. AS dan Eropa demikian semangat mengangkat krisis di Sudan Barat sebagai bentuk pembantaian etnis. Di sisi lain, AS diam seribu bahasa terhadap tindakan kejam para pemberontak di Sudan Selatan dan Barat tersebut.

Kenyataan sesungguhnya, negara-negara imperialis itulah—yang didukung oleh antek-anteknya—yang merekayasa konflik di negeri-negeri Islam. Mereka memunculkan konflik horisontal agar umat ini tetap terpecah-belah. Muncullah konflik Pakistan-Bangladesh, Iran-Irak, Irak-Kuwait, Filipina-Moro, Thailand-Pattani, Irak-Kurdi-Turki, Sudan Selatan, Timor Timur, Aceh, Papua, Poso, Ambon, dan lain-lain. Sudah banyak bukti, bahwa AS secara langsung atau tidak langsung membantu—dengan dana maupun persenjataan—pihak-pihak yang menghendaki disintegrasi.

Politik disintegrasi ini secara ‘klasik’ telah dijadikan AS untuk memecah-belah Dunia Islam. Politik disintegrasi juga dijadikan alat untuk menimbulkan konflik yang menjadi alasan AS untuk melakukan intervensi.


3. War on Terrorism
War on terorism masih menjadi isu yang dipelihara AS untuk kepentingan nasionalnya. Atas dasar perang melawan terorisme, AS mengintervensi negara-negara lain. Perang melawan terorisme juga mereka perkuat dengan isu agama seperti Perang Salib. Bush pernah mengatakan bahwa perang ini merupakan lanjutan dari Perang Salib. “This Crusade, this war on terrorism, is going to take a along time. (Perang Salib, perang melawan terorisme, akan memakan waktu yang lama),” katanya. (BBC, 16/9/2001).

Wakil Menhan AS urusan intelijen, Letjen William Boykin, juga pernah mengatakan, “The U.S. battle with Islamic terrorists as a clash with the devil (Perang melawan teroris Islam sama dengan perang melawan setan).” (VOA, 22/10/2003).

Upaya mempertahankan isu ini antara lain dengan pembentukan opini bahwa para teroris mengancam kepentingan AS dan dunia, jaringan teroris sangat kuat dan meluas, pemberian warning (peringatan-peringatan) tentang adanya ancaman terorisme, dll. Dalam konteks ini, beberapa tindakan teror sangat mungkin didalangi oleh AS, langsung atau tidak, untuk memperkuat anggapan adanya ancaman terorisme dunia. Bahkan, dalam forum ekonomi APEC (yang tidak berhubungan langsung dengan masalah politik) di Chile baru-baru ini, AS memaksakan agenda perang melawan terorisme ini.


B. Ekonomi: Liberalisasi, Privatisasi, dan Utang Luar Negeri
Negeri-negeri Islam masih menjadi obyek dari agenda ekonomi AS dan negara-negara imperialis kapitalis kufur lainnya. Hal ini tidaklah aneh karena negara-negara kufur itu sangat bergantung pada kekayaan alam negeri-negeri Islam, terutama minyak, seperti di Irak dan Saudi Arabia. Di Indonesia, secara rakus Freeport mengeksploitasi tambang emas di Papua. Agenda ekonomi ini juga penting bagi AS untuk menimbulkan ketergantungan Dunia Islam pada Barat, meskipun negeri-negeri Islam adalah negeri yang kaya. Program-program kapitalisasi ekonomi pun masih berlanjut hingga kini seperti privatisasi, utang luar negeri, investasi asing, pasar modal, mata uang dolar, dan lain-lain. Program ini dirancang oleh badan-badan penjajahan ekonomi seperti IMF, Bank Dunia, WTO, organisasi ekonomi regional, dan lain-lain.


C. Sekularisasi Pendidikan
Upaya AS yang paling menonjol adalah melakukan perbaikan kurikulum pendidikan agama di negeri-negeri Muslim yang tidak sejalan dengan kepentigan penjajahnnya. Di beberapa negeri Islam pelajaran yang memuat kejelasan tentang kekufuran, kejahatan Yahudi dan Nasrani, syariat Islam yang kâffah, dan jihad diintervensi untuk diganti. Hal ini terjadi di Indonesia, Mesir, Saudi Arabia, Yordania, dan negeri-negeri Islam lainnya.

Kedubes AS di Indonesia, misalnya, secara terbuka mengirimkan buku-buku ‘propaganda’ AS ke pesantren-pesantren di Indonesia. Di Saudi dilakukan operasi besar-besaran untuk memantau dan memeriksa para penceramah agar tidak bertentangan dengan kepentingan AS. Korbannya, lebih kurang 1000 khatib dipecat karena dianggap tidak memenuhi syarat. Untuk mencegah munculnya teroris, Maroko menutup 600 masjid. Di Mesir dan Yordania, para ulama anti Barat dan zionis Israel dilarang muncul di TV dan berceramah. Semuanya di bawah tekanan untuk memenuhi kepentingan AS.

Maksud AS dengan perubahan kurikulum ini adalah jelas, yakni menghilangkan tiga kekuatan utama kaum Muslim: akidah, syariat yang diterapkan oleh Khilafah, dan jihad. Sebab, selama tiga kekuatan ini masih hidup di dalam benak dan sanubari kaum Muslim, AS akan mengalami banyak hambatan untuk memuluskan penjajahannya atas kaum Muslim.


D. Budaya dan Gaya Hidup
Tidak ada satu aspek pun yang tidak diserang oleh negara-negara imperialis, tak terkecuali dalam hal budaya dan gaya hidup. Penduduk negeri-negeri Islam pun diformat pemikiran dan perasaannya dengan budaya dan gaya hidup Barat yang najis. Semua itu dipropagandakan oleh negeri-negeri Barat dengan sungguh-sungguh serius.

Target Barat dalam hal ini adalah jelas, menjauhkan kaum Muslim dari budaya dan gaya hidup Islam, meninabobokan mereka dengan kesenangan semu, merusak moral pemuda Islam, dan juga untuk kepentingan ekonomi.


E. Militer: Pendudukan Irak, Afganistan, Palestina
Tidak puas dengan menjajah lewat ekonomi, budaya, atau pendidikan, negara-negara imperialis penjajah kufur pun menyerang negeri-negeri Islam, dan mendudukinya secara langsung. Dengan berbagai alasan yang penuh kebohongan mereka membunuhi rakyat yang tidak berdosa, memperkosa para wanitanya, dan melanggar kehormatan rumah-rumah kaum Muslim. Inilah yang terjadi di Irak, Afganistan, Palestina, dan negeri-negeri Islam lainnya.

Negara-negara imperialis melakukan ini setelah mereka melihat bahwa kepentingan mereka tidak bisa dimaksimalkan oleh agen-agen mereka di negeri-negeri Islam. Mereka pun turun langsung dengan alasan mengganti rezim yang diktator (padahal merekalah yang membentuk, mendukung, dan mempertahankannya selama ini).


F. Pemikiran

1. Penghancuran akidah dan syariat Islam
Hal ini dilakukan dengan mengaburkan akidah Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Di bidang akidah, mereka mengusung ide persamaan agama, dialog antaragama, pluralisme, dll. Di bidang syariat, mereka melakukan upaya liberalisasi Islam, desakralisasi ajaran Islam, dan penjungkirbalikkan hukum-hukum Islam atas nama kontekstualisasi. Hermeneutika pun kemudian dijadikan metode utama untuk menafsirkan al-Quran.

Semua itu dilakukan Barat karena mereka sangat sadar, bahwa penjajahan mereka terhadap negeri-negeri Islam bisa terhambat karena pemikiran dan perasaan Islam yang dianut oleh kaum Muslim. Selama mereka masih berpegang teguh dengan akidah dan syariat Islam, memperjuangkan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islam, dan memandang bahwa jihad adalah kewajiban, mereka tidak akan bisa ditaklukkan.

Penjajah Barat antara lain menggunakan anak-anak kaum Muslim sendiri untuk menghancurkan masyarakatnya. Muncullah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Muslim, tetapi dengan bangga menyebarkan ide-ide yang rusak. Atas nama liberalisme, demokrasi, dan pluralisme mereka menjadi agen Barat yang menghancurkan kaum Muslim sendiri dengan mengokohkan sekularisme di negeri-negeri Islam.

Untuk itu, AS dan negara imperialis lainnya mendukung secara penuh upaya dekonstruksi akidah dan syariat Islam ini, seperti lewat bantuan dana. Bantuan ini bisa secara resmi lewat pemerintah atau organisasi-organisasi asing yang sejalan dengan kepentingan AS seperti LSM dan yayasan (foundation). Seperti diketahui, The Asia Foundation banyak memberikan bantuan dalam penyebaran ide-ide yang menghancurkan Islam. Salah satu hasilnya adalah Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam yang sebagian besar isinya justru bertentangan dengan syariat Islam.

2. Membentuk citra negatif Islam
Dari segi pemikiran, Barat berikut antek-anteknya—baik dari kalangan intelekual maupun yang mengklaim ulama—berupaya untuk menyesatkan, mengaburkan, dan memberikan citra negatif ide-ide Islam. Tujuannya adalah agar kaum Muslim jauh dari nilai-nilai Islam, terutama syariat Islam. Ide-ide syariat Islam pun dijelek-jelekkan. Dikatakan, misalnya, poligami menindas wanita, potong tangan tidak manusiawi, jilbab menindas wanita, dll.

Menarik rekomendasi yang diusulkan oleh Ariel Cohen, Ph.d yang diterbitkan oleh The Heritage Foundation, yang dikenal dekat dengan pemerintah AS. Menurutnya, AS harus menyediakan dukungan pada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi syariat, seperti potong tangan untuk kejahatan ringan atau kepemilikan alkohol di Chechnya, keadaan Afganistan di bawah Taliban atau Saudi Arabia, dan tempat lainnya. Perlu juga diekspos perang sipil yang dituduhkan kepada gerakan Islam di Aljazair. (Hizb ut-Tahrir: An Emerging Threat to U.S. Interests in Central Asia).

Hal yang sama diusulkan Cheryl Benard yang diterbitkan oleh the Rand Corporation. (Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, hlm. 1-24).

Jadi, jangan heran kalau isu-isu di atas paling getol dikampanyekan oleh Barat, termasuk jaringan pendukungnya dari kaum Muslim sendiri.

3. Membuat dikotomi dalam Islam dan kelompok Islam: fundamentalis-modernis, kultural-struktural, militan-moderat, dan lain-lain
Dengan membuat dikotomi ini AS berharap terjadi pertentangan antar kelompok Islam, yang jelas akan menghambat bangkit dan bersatunya umat Islam. Konflik pemikiran yang diturunkan dari dikotomi ini diharapkan menguras energi intelektual kaum Muslim dari pembahasan yang sebenarnya. Umat Islam pun diharapkan lupa bahwa musuh mereka yang sebenarnya adalah ideologi Kapitalisme yang dipimpin AS.


Khatimah

Itulah beberapa agenda penjajahan Barat atas Dunia Islam, yang sebetulnya sudah lama dilancarkan, tetapi semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Bagaimanapun, Barat dengan kekuatan negaranya yang dibangun atas dasar ideologi Kapitalisme yang mengglobal harus dilawan dengan kekuatan negara yang dibangun di atas ideologi yang juga mengglobal. Negara tersebut adalah Daulah Khilafah Islam. Daulah Khilafah Islam akan menghimpun potensi kaum Muslim dan menyatukan Dunia Islam untuk kemudian berjihad melawan penindasan negara-negara Barat kapitalis.

Jihad berperang melawan negara-negara Barat kapitalis—termasuk melalui perang propaganda—tentu saja akan dapat dilakukan secara seimbang jika kaum Muslim bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah Islam. Allah Swt. berfirman:
Oleh sebab itu, siapa saja yang menyerang kalian, seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian. (QS al-Baqarah [2]: 194).

Oleh: Farid Wadjdi
syabab muslim