Tampilkan postingan dengan label afganistan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label afganistan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Afganistan, Perang Terlama dalam Sejarah AS
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfaal : 17)



AFGANISTAN JANTUNG KAUM MUSLIMIN
Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nahl : 110)

TEROPONG SEJARAH
Filsuf George Santayana menulis, mereka yang mengabaikan masa lalu akan dikutuk mengulanginya. Presiden Amerika Serikat George Walker Bush mengabaikan hal ini. Ia tidak percaya sejarah Afganistan ditentukan oleh kelompok-kelompok suku bersenjata, yang lebih 80 persen buta huruf. Sebagian dari kelompok bersorban ini bersembunyi di goa-goa yang tersebar di pegunungan Kundush, seperti halnya di zaman batu.

Sejarah menunjukkan, tahun 330 sebelum Masehi, atau jauh sebelum masuknya agama Islam, Iskandar yang Agung memutuskan mundur bersama pasukannya dari Afganistan akibat gawatnya perlawanan suku Pashtun. Ia sendiri dua kali mengalami cedera dalam pertempuran.

Sejak itu pasukan asing silih berganti menduduki Afganistan, termasuk tentara Mongol pimpinan Jenghis Khan. Namun, pendudukan itu tidak bertahan lama. Afganistan kemudian disebut sebagai ”kuburan tentara pendudukan”.

Kerajaan Inggris mengabaikan sejarah dengan menginvasi Afganistan tahun 1839. Lagi-lagi akibat gawatnya perlawanan, sekitar 16.500 pasukan Inggris dan warga sipil mundur dari kota tersebut menuju Jalalabad, yang jaraknya 140 kilometer, 6 Januari 1842.

Kelompok-kelompok suku Pashtun ternyata mengikutinya dan menyerang sepanjang perjalanan. Akhirnya, yang berhasil mencapai Jalalabad hanya Dr William Boyd. Selebihnya tewas dibantai ataupun ditawan sebagai budak.

Belum jera atas kekalahan tragis tersebut, Inggris tetap berusaha menguasai Afganistan melalui dua perang, 1878-1880 dan 1919. Keduanya berakhir dalam kegagalan.

Uni Soviet mengalami nasib yang sama ketika mengirim puluhan ribu Tentara Merah ke Afganistan, Desember 1979. Tujuannya adalah membendung rembesan revolusi Iran dan mengamankan rezim kiri pro-Moskwa saat itu.

Di luar perkiraan, kehadiran pasukan asing ternyata mengundang maraknya perlawanan bersenjata. Setelah sekitar 15.000 prajuritnya tewas dan puluhan ribu lainnya cedera, Moskwa menarik 114.000 pasukannya dari Afganistan, 1989. Peristiwa ini menimbulkan disintegrasi Uni Soviet. Negara Tirai Besi ini tamat tahun 1991.

Invasi militer

Presiden AS George Walker Bush tidak melihat peristiwa di atas sebagai hal penting. Ia lebih percaya pada keunggulan ilmu pengetahuan dan superioritas teknologi militer sebagai kekuatan yang menentukan sejarah dan peradaban.

Maka ketika terjadi serangan 11 September 2001, ia tidak ragu mengultimatum Mullah Muhammad Omar, pemimpin tertinggi Taliban, agar menyerahkan Osama bin Laden dan 13 orang kaki tangannya. Selain itu semua kamp teroris di Afganistan harus ditutup. Bush menuding Osama bin Laden dalang serangan 11 September.



Mullah Omar menolaknya karena tidak percaya pemimpin Al-Qaeda tersebut mampu merencanakan serangan sehebat 11 September, yang jaraknya ribuan kilometer dari Afganistan. Selain itu Washington sendiri tidak menunjukkan bukti-bukti keterlibatan Osama bin Laden.

Subuh 7 Oktober 2001, pesawat-pesawat pengebom berat AS dan Inggris melancarkan serangan udara di Afganistan. Perang melawan teror telah dimulai. Bush menyebutnya sebagai Operasi Kebebasan Abadi.

Afganistan, salah satu negara termiskin di dunia, porak poranda akibat hujan bom yang dijatuhkan dari langit. Setelah lebih sebulan serangan udara berlangsung, Taliban mundur dari Kabul, 12 November 2001. Besoknya, pasukan Aliansi Utara yang beroposisi, mengambil alih kota tersebut.

Kandahar, benteng terakhir Taliban, direbut awal Desember tahun yang sama. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Taliban dan berkuasanya Aliansi Utara dukungan AS.

Lantas, apakah AS dan sekutunya berhasil mencapai tujuan perang tersebut?

Makin gawat

Perang Afganistan, yang kini memasuki tahun kesepuluh atau 109 bulan, adalah perang terlama dalam sejarah militer AS. Jauh lebih lama dibanding Perang Dunia II. Bahkan, melampaui rekor Perang Vietnam yang berlangsung 103 bulan (Agustus 1964–Maret 1973).

Perang masih berkecamuk dan makin gawat dari tahun ke tahun. Pada tahun pertama, AS hanya menempatkan sekitar 19.500 personel militer di Afganistan. Kini jumlahnya menggelembung menjadi 98.000 orang.

Pasukan Koalisi Internasional—termasuk NATO—menambah kekuatannya dari 20.000 menjadi sekitar 50.000 personel militer. Hal ini belum termasuk 120.000 personel angkatan darat Afganistan yang direkrut pasukan koalisi internasional dan AS.

Seiring dengan meningkatnya perlawanan Taliban, jumlah pasukan AS yang tewas juga meningkat drastis. Tahun 2008, tercatat 155 prajurit AS tewas. Tahun lalu jumlahnya 327 orang, atau naik lebih 100 persen. Hingga Oktober tahun ini sekitar 250 prajurit AS tewas. Jumlah keseluruhan tentara AS yang tewas di Afganistan lebih kurang 1.350 orang. Ribuan orang lagi cedera. Sebagian dari mereka harus diamputasi.

Inggris, yang pasukannya relatif kecil, kehilangan sekitar 340 prajuritnya. Angka tersebut melampaui jumlah pasukan Inggris yang tewas dalam menghadapi gerilya komunis di Malaysia ataupun perang Malvinas melawan Argentina.

Washington yang tadinya memperkirakan anggaran perang Afganistan sekitar 50 miliar dollar AS, kini telah menghabiskan lebih 361 miliar dollar AS. Hal ini belum termasuk dana pasukan koalisi internasional.

Ironisnya, tujuan perang itu sendiri belum tercapai, yakni membekuk Osama bin Laden, Mullah Omar, Dr Ayman al-Zawahiri, dan pentolan teroris lainnya. Lebih celaka lagi, lebih dari 60 persen wilayah Afganistan kini di bawah kendali Taliban.

Baru-baru ini mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mengingatkan NATO bahwa mereka tidak akan menang.

Di atas angin

Seperti biasa, tidak ingin dianggap gagal, AS mulai mencari kambing hitam. Media dan pejabat AS menuding badan intelijen Pakistan (Inter-Services Intelligence) sebagai biang kerok. Mereka diam-diam memasok informasi dan logistik kepada Taliban. Selain itu pemerintahan Presiden Karzai yang korup juga dituding sebagai penyebab meluasnya dukungan terhadap Taliban.

Presiden Obama mencoba mengubah strategi dengan menambah 30.000 prajurit AS. Tujuannya melakukan ofensif besar-besaran untuk memaksa Taliban ke meja perundingan. Hasilnya, pertemuan informal antara pemimpin Taliban dan pejabat pemerintahan Presiden Karzai berlangsung beberapa kali.

Kalangan pengamat pesimistis pertemuan tersebut akan meningkat ke perundingan resmi. Terutama karena Taliban kini berada di atas angin dan tahu bahwa Washington mulai menarik pasukannya Juli 2011. Dengan kata lain, Taliban hanya tinggal menunggu waktu untuk berkuasa kembali.

Jika hal itu terjadi, George Santayana benar bahwa mereka yang tidak belajar dari masa lalu akan dikutuk mengulanginya. Presiden AS George Walker Bush mengabaikan hal itu.

Kini AS bersama 46 negara yang mengirim pasukannya bertempur di Afganistan, mengulangi kekalahan tentara pendudukan di negara para mullah tersebut.

Dalam hal ini, prediksi Osama bin Laden tidak meleset. Jauh sebelum peristiwa 11 September, ia mengatakan, satu-satunya jalan mengalahkan AS adalah memprovokasinya menginvasi Afganistan.

Kini AS terperangkap dalam dilema. Mundur atau bertahan di Afganistan adalah bencana.



KEBATILAN AKAN SEGERA HANCUR DAN YANG HAQ INSYAALLAH AKAN SEGERA TEGAK INSYAALLAH ....
Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. At-Taubah : 13 - 15)

YA ALLAH BERIKANLAH KEKUATAN DAN KESABARAN PARA MUJAHIDIN UNTUK MENGHANCUR LEBURKAN KEKUATAN BATHIL DUNIA .............

Kamis, 19 Agustus 2010

NATO Menunggu Ajal di Afghanistan


Situasi perang di Afghanistan akhir-akhir ini tambah runyam bagi pasukan Koalisi yang tergabung dalam NATO. Perkembangan jalannya perang semakin jauh dari ekspektasi dan prediksi para politisi haus kekuasaan dan penjajahan. Para politisi dan penggemar perang di Washington, London, Paris dan negara-negara yang serdadunya ikut menginvasi Afghan mulai pesimis dan harap-harap cemas dengan peluang tentaranya untuk memenangkan Perang Afghan.

Merujuk kembali ke akhir 2001, ketika puluhan ribu pasukan koalisi negara-negara Barat dengan mudahnya merebut Kabul, Mazar-Ie Syarif, Kandahar dan kota-kota lainnya dari tangan pejuang Taliban. Saat itu, di tengah euphoria kemenangan pasukan koalisi yang begitu mudah, sejumlah pengamat militer memberikan prediksi yang hari ini terbukti benar. Analisisnya mudah saja, Pejuang Taliban tentu tidak siap berhadapan secara langsung dalam peperangan terbuka melawan tentara NATO, disamping keterbatasan personil, kekurangan senjata dan amunisi dalam peperangan frontal, juga ketersediaan logistik yang tidak memadai dalam peperangan singkat. Oleh karena itu, Taliban sengaja meninggalkan kota-kota utama Afganistan dan mundur teratur menuju pedalaman, bersiap-siap untuk peperangan panjang ala gerilya..

Pejuang Taliban yang tentu saja tidak punya pasukan reguler untuk mempertahankan kota, meninggalkan kota-kota untuk menghindari korban sipil akibat bombardir brutal dari udara, tetapi tidak semua daerah mereka kosongkan, daerah-daerah yang secara geografis menguntungkan bagi perjuangan mereka pertahankan mati-matian, pertempuran di pegunungan Tora Bora di akhir tahun 2001 memperlihatkan dimana pejuang Taliban di bantu gerilyawan Al-Qaeda berhasil memukul mundur pasukan koalisi yang dibantu oleh pasukan Aliansi Utara. Para analis militer telah memperingatkan, bahwa mundurnya Taliban bukan berarti kekalahan, tetapi lebih merupakan strategi militer brilian dalam menghadapi situasi perang asimetris.


Pejuang Taliban dan Al-Qaeda memilih mengorganisir kekuatan yang lebih baik, merekrut ribuan pejuang baru, disamping menyiapkan senjata dan amunisi yang lebih dari cukup untuk perang berpuluh-puluh tahun.

Pakar militer legendaris dunia, Sun Tzu, dalam bukunya The Art of War menyebutkan bahwa jika peperangan terjadi berlarut-larut maka pihak penyeranglah yang paling dirugikan, moral tentara yang anjlok karena perang tak kunjung dimenangkan. Sementara pihak di posisi bertahan punya lebih banyak waktu mengatur kembali barisan dan organisasi mereka, walaupun mereka lebih inferior dalam persenjataan dan taktik. Strategi inilah yang dipilih Taliban, menjadikan perang berlarut-larut, dengan sesekali melakukan serangan kejutan, meruntuhkan moral tentara musuh. Kecanggihan teknologi yang dimiliki tentara NATO menjadi tidak efektif, karena semua peralatan modern itu dioperasikan oleh tentara-tentara yang semangatnya mulai anjlok - karena mereka tidak tahu pasti alasan mereka berperang dan untuk apa mereka mati di medan Afghan yang ganas.

Berdasarkan hitungan korban pasukan koalisi dari laman independen icasualties.org, tahun –tahun pertama perang korban di pihak pasukan koalisi relatif sedikit dan bisa diterima menilik dari lama dan luas areal peperangan. Tetapi tahun-tahun selanjutnya korban terus meningkat pesat, mencapai total 521 nyawa yang tewas di palagan Afghan pada tahun 2009. Seiring dengan bertambahnya korban tewas, maka kekalahan mulai mendekat, dimulai dari kekalahan politik, ditandai menurunnya dukungan publik dalam negeri untuk perang Afghan, terjadinya perpecahan antar pejabat dan parlemen menyangkut kebijakan strategi perang yang semakin kacau. Disusul anggaran negara yang terkuras untuk membiayai perang, membuat ekonomi mengalami kelesuan, karena uang yang seharusnya dipakai untuk membiayai pembangunan domestik dialokasikan untuk kelangsungan operasi militer di negara yang bahkan tujuan operasi itu belum terasa manfaatnya sama sekali.

Taliban yang pada awal-awal perang tersingkir lambat laun telah kembali ke tengah-tengah rakyat Afghan, merebut satu persatu distrik dan kabupaten, memberlakukan Syariat Islam di wilayah yang dikuasai, serta memenangkan hati dan pikiran penduduk sipil. Kesabaran Taliban dalam menyusun strategi telah mulai membuahkan hasil yang manis.

Taliban- sekali lagi – telah memainkan strategi yang benar-benar brilian dalam menghadapi musuh dengan senjata lebih superior. Mereka, yang tentu saja tahu betul seluk beluk Afghanistan, berhasil memanfaatkan dan mengumpulkan faktor-faktor kemenangan secara simultan.

Sebagai contoh, menurut pengakuan seorang komandan lapangan Taliban, mereka secara cerdik memanfaatkan betul kondisi geografis Afghanistan untuk mencapai target taktis dan strategis. Taliban menggunakan pola serangan dan pertahanan yang begitu variatif tergantung kondisi geografis medan, di Helmand, Kandahar dan Afgan Barat, bom ranjau IED (Improvise Explosive Devices) menjadi senjata pilihan paling efektif karena medan terbuka dan tidak menyediakan tempat perlindungan cukup. Di ibukota Kabul, serangan bom jibaku (istisyhadiyah) jadi pilihan utama, karena begitu banyak target terbuka berupa pos-pos pemeriksaan dan markas pasukan koalisi, dimana banyak berkumpul personel, sehingga hasil serangan bisa maksimal. Di bagian Timur dekat perbatasan Pakistan, provinsi Kunar dan Nuristan, maka bentrok senjata lebih sering terjadi dalam skala besar, karena areanya bergunung-gunung dan hutan yang sangat sesuai untuk perlindungan alami.

Pelan tapi pasti wilayah yang dikuasai Taliban semakin luas, mengurung dan memaksa pasukan NATO tinggal di kota-kota saja, sementara para prajurit yang melakukan patroli harus siap-siap menghadapi resiko terburuk, jadi sasaran IED. Distrik yang menurut NATO diklaim telah dikuasai pun ternyata malah menjadi kuburan baru. Marjah contohnya, menurut NATO mereka berhasil menguasai distrik di provinsi Helmand ini setelah melalui serangkaian pertempuran berat. Nyatanya Taliban tetap memegang kontrol atas wilayah ini.

Di lain pihak, pasukan NATO yang mulai frustasi berat, semakin kehilangan dukungan dari rakyat Afgan, ini terjadi juga karena ulah mereka yang sering menjadikan penduduk sipil sebagai sasaran pelampiasan, tidak terhitung lagi berapa kali pesawat maupun artileri NATO menghantam sasaran-sasaran sipil, mengakibatkan ribuan korban tak bersalah. Hal ini secara langsung menjadikan dukungan kepada Taliban semakin kuat di tengah legitimasi pemerintahan Hamid Karzai yang begitu lemah. Penduduk Afgan semakin jijik melihat pasukan asing yang tanpa malu melakukan pelanggaran berbagai nilai-nilai Islam yang dalam masyarakat Afghan dihargai begitu tinggi, berkali-kali pasukan NATO melecehkan kitab suci Al-qur’an (dimana pelanggaran seperti itu tidak bisa dimaafkan sama sekali).

Angka tentara koalisi yang mengalami stress dan frustasi terus meningkat, tidak hanya di level prajurit yang saban hari berhadapan dengan maut, juga di level perwira tinggi, lihatlah kasus Jenderal Stanley McChrystal, mungkin akibat frustasi dan perbedaan kebijakan dengan Washington, langsung menumpahkan uneg-uneg kepada publik melalui majalah Rolling Stone. Kalau tentara selevel jenderal saja yang kerjanya hanya duduk di belakang meja sudah begitu frustasi, bisa dibayangkan apa yang terjadi pada level prajurit rendahan yang berada di lapangan dan berjibaku dengan lawan. Tingkat stress yang tinggi akibat perang nampak ditunjukkan oleh tingginya angka bunuh diri prajurit yang baru pulang dari medan perang, meningkatnya angka perceraian di keluarga prajurit, kekerasan dalam rumah tangga, serta angka kejahatan yang dilakukan oleh para prajurit veteran perang.

Pemerintah boneka Karzai di Kabul pun idem dito, semakin kehilangan kepercayaan rakyat Afghanistan karena budaya suap, korupsi dan ketidakmampuan mengefektifkan pemerintahan. Pemerintah Kabul tidak berdaya melindungi rakyatnya yang dibantai pasukan asing, tindakan yang dilakukan hanya sebatas mengecam dan mengecam, tanpa mampu bertindak lebih. Hal ini membuat mayoritas rakyat Afgah memposisikan pasukan NATO – dan juga pemerintahan sendiri- sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas segala kehancuran dan karena itu harus dilawan.

Maka ditengah segala situasi tersebut, NATO menjalankan misi menggantang asap dalam perang Afgan. Satu persatu anggota koalisi mulai ngacir dan lepas tanggung jawab, Belanda contohnya, Pasukan negeri tulip ini kabur setelah terus menerus menerima kekalahan di Provinsi Uruzgan, walaupun dalam pemberitaan media-media mainstream mereka mundur karena keadaan telah pulih, nyatanya mereka mundur karena tidak tahan lagi berperang.

Nampaknya Amerika dan NATO tidak pernah belajar dari sejarah, bahwa tidak ada bangsa yang mampu mengalahkan bangsa Afghan, mulai dari Alexander Yang Agung, Inggris, hingga Soviet yang akhirnya hancur berkeping-keping setelah menerima kekalahan telak dalam perang di tahun 80-an. Beruntunglah Islam yang mempunyai ummat seperti bangsa Afghan yang gagah perkasa, sebuah bangsa yang tidak sudi dijajah oleh siapapun.

Kini, menjejak bulan Agustus 2010, korban tewas pasukan koalisi sudah menembus angka 2000 orang, sudah saatnya pasukan koalisi bernapas dalam-dalam, bersiap-siap menerima kekalahan telak yang akan segera menimpa mereka. Fragmen sejarah baru akan tercatat, dimana kekuatan militer terbesar dunia akhirnya takluk di tangan pejuang-pejuang bersenjata kuno, kekuatan militer terbesar dunia yang akan pulang ke negeri mereka dengan hina dan kepala tertunduk, setelah bangsa Afghan yang gagah menghajar mereka dengan telak. Fragmen sejarah juga akan mencatat, dimana Amerika akan kembali tergelincir, jatuh terjerembab di pegunungan Hindu Kush dan padang pasir Helmand, sebagaimana mereka juga pernah tergelincir dan terjerembab di Tepi Sungai Mekong, Vietnam. INSYAALLAH!! (voi)

Oleh: Shahimi bin Tgk. Ilyas Asyi
*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Unsyiah, Banda Aceh.
sumber : =====>

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nuur : 55)

Rabu, 28 Juli 2010

“Dan MALAIKAT pun Turun di Afganistan “ (Kisah2 Ajaib dan Nyata)…



Berikut ini ana Kutipkan Beberapa Kisah-Kisah Ajaib tentang Pertolongan ALLOH di Bumi Suci Afganistan, yang diambil dari buku “Ayyaturahman fi jihadil afgan” karangan As Syahid Syeikh.Dr Abdullah Azzam rohimahulloh.
Yang mana Kisah-kisah ini dituturkan langsung dari medan pertempuran dan ditulis oleh beliau dengan memperhatikan secara serius jalur periwayatan yang benar dari orang-orang terpercaya yang mengalami langsung kejadian-kejadian ajaib ini (Karomah)....
Sebagaimana yang kita ketahui beliau (As syahid Dr.Abdullah Azzam) tidak menulis isi buku ini melainkan setelah beliau merasa mantap akan kebanrannya.
Bahkan syeikh Abdul Aziz bin Baaz berkata dalam Kata Pengantar buku ini :
“Ini adalah kabar gembira,sebaik-baik kabar gembira yang memberikan berita kemenangan kepada mereka (|Mujahidin), insya Allah!”

Lalu juga Perkataan Dr.Umar Al-asyqar beliau berkata : “Yang Terpenting dari semunya adalah jalur periwayatan yang benar.Apabila riwayat kisah tersebut terdiri dari orang-orang yang jujur ,maka kita wajib menyebarluaskannya, baik Manusia Percaya atau tidak”..

Dilihat dari sisi logika manapun akan merasa heran dan tak percaya bagaimana Para mujahidin yang minim persenjataan ,minim personel dan tak memiliki jet tempur seperti musuh, dapat mengusir penjajah kuffar sebesar Uni Soviet yang ketika itu menjadi salah satu “Super Power Dunia”,dalam perang yang berlangsung secara 10 tahun.
Hanya dengan keberanian para mujahidin serta pertolongan ALLOH lah yang dapat menyebabkan Musuh lari tunggang langgang dengan wajah kehinaan.
Kita berdoa semoga NATO serta Amerika yang sekarang menyerang afganistan, akan mengalami nasib serupa dengan Uni Soviet, Amienn.....

Berikut beberapa kisah ajaib itu :

A.Tembakan dan Serangan “Muncul” DARI BERBAGAI ARAH...

Arsalan menceritakan padaku (maksudnya pada Syeikh Dr.Azzam,penulis buku ini), dia berkata :

“Kami pernah berada di daerah syahturi. Jumlah Kami saat itu 25 Mujahid.Kami diserbu oleh 2000 pasukan Komunis.Setelah kami bertempur selama 4 jam,tentara komunis kalah.70-80 tentara komunis tewas dan 26 tentara tertawan , “Kenapa kalian cepat sekali kalah?”
Mereka menjawab : “Peluru dan senjata mesin Amerika menyerbu kami dari empat arah.”.Arsalan berkata ,”Kami(Mujahidin) tidak mempunyai peluru itu dan tidak pula memiliki senjata mesin. Kami hanya menggunakan garnat lempar dan menyerbu dari satu arah”.

B.Burung Bersama Mujahidin

1. Jalaludin Haqqani -salah satu mujahid terkenal di afganistan- menceritakan padaku :
“Kami bisa mengenali tanda-tanda pesawat-pesawat tempur musuh yang akan menyerang
Kami.
Caranya dengan melihat burung-burung yang terbang di atas kamp kami.Ketika kami melihatnya berputar-putar di atas kamp,Kami mulai mempersiapkan senjata untuk membalas serangan peswat musuh”

2. Al-Hajj Muhammad Jul –Salah satu Mujahid di konar- Menceritakan padaku ,”Saya melihat burung-burung terbang bersama pesawat tempur lebih dari sepuluh kali.Burung-burung itu terbang lebih cepat daripada peswat. Padahal keceptan pesawat tempur yang kita ketahui adalah tiga kali lebih cepat dari kecepatan suara”

C. ULAR tidak mematuk Mujahidin

Umar Hanif bercerita tentang kisahnya :
“Sering sekali ular datang dan tidur bersama mujahidin di kamp mereka sejak empat tahun yang silam.Ular itu tidak mematuk mujahidin”

D.Kalajengking bersama mujahidin

Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan tiada lain ia kecuali peringatan bagi manusia.”
QS Al-Mudatsir (74):31.

Abdushshamad dan mabubullah menceritakan kepadaku :
“Orang-Orang Komunis mendirikan perkemahan di dataran Qunduz.Tiba-tiba mereka diserbu oleh sekelompok kalajengking.Akibatnya 6 tentara mereka disengat dan tewas,sedang yang lainnya melarikan diri.”

E.Doa Mujahidin Dikabulkan

Maulawi Arsalan –Salah satu mujahid yang terkenal di afganistan ,dia adalah mujahid yang ditakuti oleh tentara Rusia, sampai-sampai mereka mengatakan dia adalah orang yang memakai daging manusia -
Sang Mujahid berkata :
“ Suatu Ketika kami hanya memiliki satu granat dan satu senjata anti-tank.Kemudian kami melaksanakan Sholat dan berdoa kepada Allah S.W.T agar Dia menghantamkan granat ini kepada musuh.Saat itu kami berhadapan dengan 200 tank dan kendaraan berat lainnya.Kami melemparkan granat itu dan tepat mengenai sebuah mobil yang mengangkut bahan peledak.Sehingga mobil itu meledak dan menghancurkan 86 tank, beserta mobil panser yang lainnya.Akhirnya musuhpun kalah dan kami mendapat harta ghonimah yang sangat banyak”.Dan saya (syeikh Dr.Azzam) telah bertemu dengan pemuda yang melemparkan garanat itu di Batur.

ALLOH S.W.T berfirman :

“Bukan kamu yang membunuh mereka tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar tatkala kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. ”
( Surah al-Anfaal : Ayat 17 )

F. Bom tidak meledak

Jalaludin Haqqani menecritakan padaku ,dia berkata :

“Kami bersama 30 Mujahid menghadapi serbuan bom-bom dari pesawat tempur musuh. Semua bom-bom itu meledak.Namun tatkala ada satu bom yang beratnya kurang lebih 54 Kg meluncur ke hadapan kami, Bom itu tak meledak.Seandainya meledak pasti kami semua terbunuh”

G. Pasukan Berjumlah Kecil Mengalahkan Ribuan tentara Musuh

Haqqani mengkishkan padaku :

“Kami berjumlah 59 mujahid ,diserbu oleh kekuatan yang terdiri dari 220 Tank, Mobil Panser , Peswat Tempur dan didukung oleh 1500 tentara – Jumlkah ini dietahui dari pengakuan musuh yang ditawan –
Akhirnya, dari pertempuran dahsyat itu diperoleh harta ghonimah , 54 tank hancur, 150 tentara komunis tewas, dan 100 orang lainnya luka-luka.Kami mendapatkan harta rampasan senjata anti pesawat,beberapa senjata mesin Jerinov,7 pucuk senjata Klashinkov , satu buah senjata roket 66 mm,280 peluru roket dan 36.000 butir peluru”

H. Jasad Syuhada Yang Tersenyum dan Mengeluarkan Wangi kasturi

1. Maulawi Abdul Karim menceritakan kepadaku ,dia berkata :

“ Saya Melihat sekitar 1200 orang mati syahid.Saya tidak melihat satu pun dari tubuh mereka yang berubah.
Dan saya tak melihat seorang pun dari tubuh mereka yang dimakan oleh gerombolan anjing, pada saat anjing-anjing itu memakan mayat orang-orang komunis”

2. Bau Wangi dari minyak wanggi sebagus apapun mungkin hanya bertahan sampai satu pekan, namun bau wanggi orang syahid masih terasa wanggi lebih dari tiga bulan .
Nashrullah Manshur menceritakan padaku, dia berkata :
“ Saudaraku mati syahid,Setelah tiga bulan ibuku bermimpi bahwa dia berkata,seluruh lukaku sembuh,kecuali luka di kepala.Maka ibuku ingin membuktikannya.Diapun menggali kuburnya –Yang berada dekat dengan kuburan lain –
Setelah lubang kubur itu tampak, dan demikian pula kuburan yang ada disampingnya, Kami melihat ada seekor ular di atas mayat.Lantas ibuku berkata :
“Jangan kamu gali lagi !”. Saya berkata : “Sesungguhnya saudaraku ini mati sayhid,tidak mungkin kita mendapati ada ular.”.
Setelah kami dapat menggalinya,tiba-tiba mayat itu mengeluarkan bau wangi hingga menusuk hidung.Dan hampir saja kami tidak sadarkan diri karena bau wanggi yang amat sangat wangi.Kami mendapatkan luka di bagian kepalanya mengeluarkan darah, lalu ibuku menyentuhnya.Dan karena hal itu,jarinya menjadi wanggi dan selalu wangi hingga tiga bulan kemudian. Sampai sekarang,jarinyapun masih bau wanggi seperti minyak kasturi”

Demikian lah sebagian kisah yang ada di buku “Ayyaturahman fi jihadil afgan”,
Semoga kita yang membaca mendapati kematian seperti para syuhada atau minimal khusnul khotimah dalam meperjuangkan agama ini…
ALLOH HU AKBAR !!!