Senin, 09 November 2009

UTSMAN BIN AFFAN


Utsman bin Affan, dikenal sebagai Abu Abdillah, dilahirkan di Makkah. Dzunnurrain julukan kehormatannya karena mengawini dua putri Nabi berturut-turut. Ia termasuk keluarga besar Umayyah dari suku Quraisy, dan silsilah pertaliannya dengan Nabi adalah generasi kelima.

Setelah melalui pendidikan dasarnya, Utsman menjalankan usaha nenek moyangnya yang menjadi pedagang Arab terkemuka. Ia sahabat dekat Abu Bakar, khalifah Islam pertama. Adalah Abu Bakar yang membawa berita pertama kali tentang Islam kepadanya. Bersama dengan Thalhah bin Ubaidillah, ia masuk Islam langsung melalui Nabi. Ia sempat disiksa dengan kejam oleh pamannya sendiri, Hakim, karena masuk agama baru itu, namun Utsman tetap pada pendiriannya.

Atas perintah Nabi, Utsman hijrah ke Abessinia bersama kaum Muslimin lainnya. Ia berada di bawah Abu Bakar dan membantu dana keuangan kepada Islam di masa-masa awalnya. Ia mengabdikan diri dengan sepenuhnya walaupun harus mengorbankan perdagangannya. Ia berperan aktif dalam dewan inti agama Islam. Meninggalkan harta bendanya kemudian hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya. Pada waktu itu, di Madinah hanya ada sebuah sumur sumber air minum bernama Bir Rumah milik seorang non Muslim yang memungut pembayaran yang tinggi dari kaum Muslimin yang memerlukannya. Karena Nabi menginginkan kaum Muslimin membeli sumur tersebut, seketika itu Utsman tampil menyatakan kesediaannya. Ia membelinya dengan harga 30.000 dirham, lalu menjadikan sumur itu milik umum. Utsman juga membeli tanah yang berbatasan dengan masjid Nabi di Madinah, karena bangunan ibadah tidak lagi mampu menampung orang yang sholat. Dari uangnya sendiri pula Utsman membiayai perluasan masjid itu.

Semasa hidup Nabi, kecuali dalam perang Badar, Utsman senantiasa berperan serta dalam setiap peperangan mempertahankan agama Islam yang baru berkembang. Pada perang Badar, Nabi meminta Utsman menjaga isterinya, Ruqayyah, yang sedang dalam sekaratul maut.

Selama masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar, Utsman menjadi pejabat yang dipercayai sebagai anggota terkemuka dewan inti, dan pendapatnya tentang masalah kenegaraan yang penting-penting selalu didengarkan. Ia satu di antara dua orang yang diajak berunding oleh Abu Bakar menjelang wafatnya, untuk membicarakan soal pengangkatan Umar sebagai penggantinya.

Saat akan meninggal Umar mengajukan enam calon khalifah yang salah satu di antaranya akan dipilih menggantikan dirinya. Empat calon mengundurkan diri, sehingga tinggal Utsman dan Ali sebagai kontestan. Kedua orang itu setuju menerima keputusan Abdur Rahman ibn 'Auf, yang pada hari ketiga memberikan suaranya untuk Utsman sebagai khalifah Islam ketiga. Terpilihnya Utsman diikuti dukungan dan sumpah setia penduduk Madinah kepadanya.

Enam tahun pertama pemerintahan Utsman ditandai dengan perluasan khilafah Islam yang besar sekali, di samping tercapainya prestasi besar di bidang kehidupan lainnya. Hanya enam bulan setelah pemilihan khalifah ketiga, orang Parsi memberontak melawan kekuasaan Islam. Bekas raja Parsi, Yezdejird, yang berada di pembuangan, ada di balik pemberontakan ini, yang didukung agen-agennya yang sangat aktif di seluruh negeri itu. Utsman langsung menanggulangi pemberontakan itu dengan tangan besi, dengan mengirimkan bala bantuan untuk memadamkan kerusuhan. Ia mengejar pemberontak sampai ke luar perbatasan Parsi, sehingga mendapatkan daerah tambahan baru. Menjelang tahun 30 H, daerah-daerah di utara dan timur Parsi, termasuk Balkh, Turkistan, Heart, Kabul, Ghazni, Khorasan, Tus, Meashapur, dan Merv jatuh ke tangan tentara Islam, dan dimasukkan ke dalam kerajaan Islam. Sementara Yezdejird yang menyelamatkan diri, meninggal dalam pembuangan pada tahun 32 H. kematiannya membawa perdamaian abadi di Parsi. Bahkan orang Turki dan Romawi di barat laut Parsi dapat ditaklukkan. Orang Romawi dikejar sampai jauh melewati sebelah barat perbatasan Parsi. Bendera Islam dipancangkan dengan perkasa di pantai-pantai Laut Hitam.

Pada tahun kedua kekhalifahan Utsman, orang Romawi menyerang Syiria melalui Asia Kecil. Garnisun yang dikomandoi Muawiyyah, gubernur Syiria, jumlahnya lebih kecil dari pasukan pihak penyerbu, sehingga hampir saja mereka tidak dapat mengatasi situasi. Datangnya bala bantuan baru mempercepat hancurnya pasukan Romawi dan musuh dikejar sampai ke pantai Laut Hitam, Armenia, Azerbaijan, dan Asia Kecil jatuh ke tangan kaum Muslimin, seperti juga Tiflis di Laut Hitam. Pada tahun 32 H, Muawiyyah mengepung Konstantinopel. Di perbatasan dibangun benteng-benteng kuat untuk menahan gerak maju tentara Romawi ke daerah kaum Muslimin.

Orang Romawi memasang batu loncatan di Mesir dan Afrika Barat dalam upaya menduduki daerah Muslimin. Mereka merebut Alexandria dalam tahun 25 H (646 M), tapi tentara Muslimin di bawah pimpinan Amr ibn al-Ash segera merebut kembali Alexandria. Gregorius, panglima pasukan Romawi di Tripoli mempunyai 120.000 prajurit. Mereka merupakan ancaman yang terus-menerus bagi negara Muslimin di sekitarnya. Sepasukan tentara yang kuat, termasuk veteran besar seperti Abdullah ibn Zubair, segera dikirim dari Madinah untuk menghadapi situasi rawan itu. Tentara Romawi memberikan perlawanan gigih, tapi dengan tewasnya panglima perang mereka di tangan Abdullah bin Zubair, perlawanan musuh menjadi porak poranda dan kalah dengan menderita banyak korban jiwa.

Di bawah pemerintahan Utsman, kaum Muslimin pertama kalinya melancarkan perang laut. Pada mulanya Khalifah melarang Muawiyyah menyerang Cyprus, kubu Romawi di sepanjang perbatasan Syiria, sehingga merupakan bahaya laten bagi wilayah Muslimin. Dari pulau yang strategis itulah orang Romawi melancarkan serangan beruntun ke pantai Syiria. Dengan syarat-syarat tertentu, Utsman kemudian mengizinkan Muawiyyah menyerbu pulau itu. Muawiyyah membangun sebuah armada laut yang kuat, armada pertama bagi Islam. Cukup aneh juga dapat didudukinya Cyprus oleh Syiria tanpa banyak perlawanan.

Pada tahun 31 H (654 M) Romawi menyerbu Mesir dengan mengerahkan 500 kapal. Gubernur Muslimin di Mesir menghadapi musuh dengan armada yang kecil. Dia mengikatkan kapal-kapalnya satu sama lainnya, dan dengan perang jarak dekat armada Romawi dapat dikalahkan. Sukses ini mengukuhkan reputasi angkatan laut Muslimin di timur Laut Tengah.

Banyak alasan yang menjadi penyebab lahirnya pertikaian di antara kaum Muslimin, yang memuncak dengan timbulnya pemberontakan terbuka terhadap kekuasaan Khalifah. Tapi faktornya yang utama di balik persengkongkolan ini ialah kebencian kepada kekuatan Muslimin, yang mendorong Ibn Saba dan para pengikutnya ingin membakarnya dari dalam. Prinsip-prinsip demokrasi yang diterapkan dalam Islam, serta kesederhanaan dan kesalehan Utsman yang tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah di antara sesama Muslimin, memberi keleluasaan kepada komplotan jahat memfitnah dan merusak rezimnya. Permintaan para penguasa lokal, yang daerahnya dilanda kerusuhan, agar diizinkan menumpas para agitator sampai ke akar-akarnya, tidak menggoyahkan Khalifah yang tulus itu.

Selama enam tahun pertama kekhalifahan Utsman, administrasi pemerintahannya tidak kehilangan efektifitas, sama seperti para pendahulunya. Sedang kegiatan pembangunaan bangsa tetap berlanjut. Setelah huru-hara di Parsi dipatahkan dengan tangan besi, batas-batas negara diperluas. Perang laut yang diperkenalkan mendapat sukses besar, sedangkan negara tidak kehilangan tenaga dan vitalitasnya. Semua itu merupakan ciri-ciri pertumbuhan luar biasa kerajaan Islam selama pemerintahan Khalifah kedua. Tapi fiil buruk sejumlah bekas orang Kristen dan Yahudi yang memeluk agama Islam dengan sikap mental yang reserve, hanya demi mereguk keuntungan dari prinsip demokrasi Islam tapi menolak diberlakukannya pembatasan terhadap penyelewengan dan kelemahan moralnya, bertemu secara utuh dalam diri pemimpin mereka yang pandai, Ibn Saba, seorang Yahudi Yaman yang baru memeluk agama Islam. Daerah Arab di Basrah, Kufa dan Fustat (Cairo), yang dihuni orang non Hejaz, menjadi mangsa yang empuk bagi intrik keji Ibn Saba dan antek-anteknya. Ia menyebarluaskan intrik-intriknya ke seluruh Irak, Mesir, Kufa dan Fustat yang menjadi pusat komplotannya terhadap Khalifah.

Sejauh batas kemampuan manusia, ia menerapkan disiplin dengan keras dan tidak memihak dalam menyelenggarakan keadilan. Ini terbukti dari hukuman cambuk yang dijatuhkannya kepada Gubernur Walid yang ada hubungan keluarga dengannya, karena dituduh pemabuk. Utsman juga memecat beberapa gubernur dari suku Umayyah, padahal mereka terbukti administrator yang pandai. Yang dijalankannya adalah menarik unsur-unsur yang berintegritas, mampu dan dinamis, serta senantiasa mengikuti contoh pendahulunya. Usahanya menjauhi nepotisme terbukti dengan tidak membiarkan putranya yang berbakat, Abdullah bin Umar, mengisi sebuah jabatan pemerintahan. Maka hilanglah sebuah senjata yang hendak ditodongkan pengacau kepada Khalifah. Namun ini tidak membuat mereka berhenti. Nasehat-nasehat yang menyesatkan dari sekretarisnya, Marwan, juga menjadi salah satu sumber malapetaka bagi Utsman.

Akhirnya saat yang genting itu pun tiba. Para pemberontak mengepung Madinah, toh tekad penduduk kota ingin membela khalifahnya sampai titik darah penghabisan tidak disetujui Utsman. Ia tidak menginginkan timbulnya pertumpahan darah di kalangan kaum Muslimin. Tapi larangan itu tidak diindahkan Ali, yang menempatkan dua putranya berjaga-jaga di pintu depan rumah Khalifah, yang siap mengorbankan nyawanya sendiri. Tindakan ini juga dilakukan sejumlah orang lainnya. Di antara tuntutan beberapa pemberontak, Khalifah menyetujui mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur Mesir. Dengan ini pemberontak merasa puas dan lalu mereka menarik diri sehingga rendah topan keributan yang siap melanda Madinah.

Tapi beberapa hari kemudian, para pemberontak muncul lagi dan kembali mengepung Madinah. Ketika ditanya kenapa mereka mengulangi perbuatan itu lagi, para pemberontak mengaku telah menemukan sepucuk surat rahasia Khalifah yang memerintahkan gubernur Mesir memenggal kepala Muhammad bin Abu Bakar segera setelah ia tiba di sana. Mereka tidak menunjukkan siapa kurir pembawa surat rahasia tersebut. Khalifah dengan keras membantah adanya surat seperti itu. Para pemberontak kemudian memang menerima pernyataan Khalifah, tapi mereka kini giliran mereka menuduh sekretaris Khalifah, Marwan, sebagai yang bertanggung jawab atas pemalsuan surat keji tadi. Pemberontak menuntut agar Marwan diserahkan kepada mereka, tapi Khalifah menolaknya sebelum ada bukti yang pasti tentang perbuatannya. Para pemberontak tidak dapat menjawab dengan memuaskan pertanyaan Ali, "Bagaimana mereka kembali bersama-sama pada waktu yang bersamaan, sedangkan arah jalan mereka berlawanan?" Ali lalu menganggap surat tersebut palsu. Khalifah yang saleh dan arif itu, dalam pidatonya di hadapan para pemberontak, berkata, "Adapun perkara maut, aku tidak takut, dan soal mati bagiku hal yang mudah. Soal bertempur, kalau aku menginginkannya, ribuan orang akan datang mendampingiku berjuang. Tapi aku tidak mau menjadi penyebab tertumpahnya darah, walau setetespun, darah kaum Muslimin."

Akhirnya puncak krisis datang juga. Banyak orang Madinah pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Para pemberontak menganggapnya sebagai kesempatan yang baik untuk melancarkan rencana jahat mereka. Mereka menyerang rumah Khalifah. Waktu itu, karena tidak berani masuk melalui pintu gerbang yang di jaga putra-putra Ali yang gagah berani, mereka memanjat dinding rumah di bagian belakang dan membunuh Khalifah tua ketika ia sedang membaca kitab suci Al-Qur'an. Toh Utsman berpulang dengan sangat tenang. Jari manis isterinya terpotong ketika membela suaminya. Khalifah mati syahid pada tanggal 17 Juni 656 M. itulah caranya mati. Ia memberikan jiwanya sebagai "pengorbanan bagi solidaritas Muslimin." Pada waktu itu Utsman berumur 82 tahun, dan kekhalifahannya berlangsung selama 12 tahun.

Sebelum maupun sesudah terpilihnya ia sebagai khalifah, Utsman telah menyumbangkan sejumlah uang yang sangat berharga bagi perkembangan agama Islam. Seluruh harta bendanya diserahkan untuk digunakan Nabi. Kedermawaannya luar biasa. Ketika terpilih menduduki jabatan khalifah, ia tidak mengambil apa pun dari Baitul Mal. Ia malahan melayani rakyatnya dengan hasil usaha dagangnya sendiri. Sejarawan Islam yang ternama, Thabari, mengutip pidato khalifah Islam yang ketiga itu sebagai berikut: "Ketika kendali pemerintahan dipercayakan kepadaku, aku pemilik unta dan kambing paling besar di Arab. Sekarang aku tidak mempunyai kambing atau unta lagi, kecuali dua ekor untuk menunaikan ibadah haji. Demi Allah tidak ada kota yang aku kenakan pajak di luar kemampuan penduduknya sehingga aku dapat disalahkan. Dan apa pun yang telah aku ambil dari rakyat aku gunakan untuk kesejahteraan mereka sendiri. Hanya seperlima bagian yang aku ambil untuk keperluan pribadi (yaitu yang dari Baitul Mal). Di luar itu tidak ada. Uang itu dibelanjakan untuk orang yang pantas menerimanya, bukan untukku, tapi untuk kaum Muslimin sendiri. Tidak satu sen pun dana masyarakat disalahgunakan. Aku tidak mengambil apa pun dari dana tersebut. Bahkan apa yang aku makan, dari nafkahku sendiri."

Prestasi tertinggi Utsman ialah berhasil dihimpun dan distandarkannya Al-Qur'an. Semasa pemerintahannya, Islam tersebar luas ke daerah-daerah yang jauh, yang dihuni oleh berbagai bangsa yang berbeda. Perbedaan pengucapan dan dialek di Arab membuat lahirnya keanekaragaman cara membaca Al-Qur'an. Inilah yang membuat ia menganggap perlunya menyusun Al-Qur'an standar, yang dapat memberikan tuntunan kesatuan pengucapan ayat-ayatya secara baik dan benar di seluruh dunia. Khalifah pertamalah, Abu Bakar, yang menyusun salinan Al-Qur'an standar setelah membanding-bandingkannya dengan memakai bantuan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Salinan Al-Qur'an tersebut ada pada isteri Nabi. Beberapa salinan dari jilid ini dipersiapkan Khalifah setelah berkonsultasi dengan para sahabat Nabi yang terkenal, lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan Islam untuk dijadikan bahan yang standar. Untuk menghindari perbedaan versi, semua salinan yang tidak otentik dibakar. Tindakan ini diambil atas persetujuan semua sahabat dekat Nabi SAW, yang merupakan sebuah dewan yang menjamin penyebarluasan salinan yang standar tersebut. Tindakan tersebut diambil juga sesuai dengan keinginan Nabi, yang menghendaki adanya penyusunan Al-Qur'an secara standar.

Khalifah yang ketiga ini terutama terkenal karena integritas dan kesederhanaannya, kesalehan, dan sikapnya yang rendah hati. Dalam hal kejujurannya, tak seorang pun meragukannya bahkan musuhnya sekalipun. Tak syak lagi, beberapa orang tertentu telah memanfaatkan kesederhanaan Utsman, toh apapun yang ia perbuat, itu dilakukannya dengan maksud dan tujuan yang baik.

Sumber: SERATUS MUSLIM TERKEMUKA, Jamil Ahmad.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar